Rabu, 22 Juni 2016

INSPIRASI



Keterbatasan Fisik Bukan Halangan Untuk Hidup Mandiri

Aku lahir pada tanggal 16 Juni 1969. Sejak kecil aku menderita DMP (distrofia muskulorum progresinya). Yaitu penyakit tentang struktur dan fungsi otot seran lintang yang diturunkan secara genetik dan tidak berhubungan dengan struktur abnormal susunan syaraf pusat dan syaraf tepi. Gejala DMP menyerupai kelumpuhan, tapi tidak berlangsung secara cepat melainkan perlahan. Terjadi penurunan fungsi gerak otot, sehingga sering mengalami kekakuan dan gerakan yang lemah. Waktu kecil aku masih bisa berjalan dan beraktivitas seperti anak normal lainnya. Hanya setelah beranjak dewasa gerakan otot terasa lemah dan berkurang kekuatannya.

Karena kondisi fisik yang makin melemah, aku hanya sempat mengenyam pendidikan SMP. Sebenarnya aku ingin meneruskan ke jenjang SMA, tapi dengan kondisi yang lemah aku tak bisa. Saat itu (1985) diskriminasi dalam bidang pendidikan masih kental. Siswa yang diterima masuk ke sekolah negeri/umum disyaratkan sehat jasmani dan rohani. Akhirnya, aku hanya bisa berdiam di rumah. Aku membayangkan, bagaimana kelak hidupku dengan kondisi seperti ini.

Untuk menghibur diri aku menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku. Kesenangan membaca membuat aku jadi terdorong ingin menjadi penulis. Aku membaca kisah para pengarang ternama yang mampu hidup dari hasil menulis karangan. Kupikir inilah dunia yang bisa kugeluti untuk mencapai harapan hidup mandiri. Gairah mengarang menggebu dalam diriku. Untuk menunjang kegiatan itu orangtuaku membelikan mesin ketik bekas yang sudah kuno. Dengan mesin ketik yang kadang balok hurufnya terlepas itu aku mulai merintis jalan sebagai pengarang.

Namun untuk menjadi pengarang yang mapan ternyata tidak semudah bayangan. Berkali-kali tulisan yang kukirimkan ke media cetak seperti majalah atau koran seringkali diretur alias dikembalikan oleh redaktur. Ada perasaan kecewa dan putus asa menyekap diriku. Sempat terpikir dalam benakku, mungkin aku tak berbakat jadi pengarang. Aku dihinggapi perasaan minder karena kulihat tulisan-tulisan yang dimuat di media massa kebanyakan ditulis oleh orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi.

Tapi aku berusaha menepis rasa minder dengan mencoba terus menulis. Akhirnya, sebuah cerpen karyaku berhasil tampil di sebuah media koran mingguan. Aku masih ingat betul cerpen pertamaku yang berjudul “Dor” dimuat di mingguan “Dharma” terbitan Semarang, pada pertengahan 1988. Tak terkira betapa senangnya aku. Meski honor yang diterima sangat kecil; Rp. 5000.

Sejak itu aku semakin giat menulis karangan dan mengirimkan ke berbagai media massa. Aku mulai belajar banyak hal dari dunia menulis. Aku sadar bahwa dalam meniti karir sebagai pengarang, bukan hasil yang terpenting tetapi adalah proses. Dan proses yang dijalani seorang pengarang adalah terus belajar dan menghasilkan sebuah karya bagus, sementara hasil mengikuti dengan sendirinya. Hingga sekarang (kurang lebih 25 tahun) aku menekuni dunia menulis. Jatuh bangun dalam menjalani dunia yang tak sepi dari persaingan ini telah kualami.

Alhamdulillah, dari hasil menulis aku bisa hidup mandiri. Aku bisa menghidupi istri dan kedua anakku yang sekarang sudah duduk di bangku kelas 12 SMA. Penghasilan dari mengarang memang tidak menentu, tapi hal ini tak menciutkan semangatku. Karena aku yakin rejeki sudah dijamin Tuhan. Semua tinggal bagaimana kemauan dan kerja keras kita. Paling tidak aku telah berhasil mengatasi salah satu problem besar yang dihadapi oleh banyak orang, yakni pekerjaan. Banyak orang terpuruk oleh masalah pengangguran dan kemiskinan. Hal ini kupikir bukan semata faktor kurangnya lapangan kerja atau pendidikan, karena faktanya banyak lulusan SMA dan Sarjana menjadi pengangguran.

Aku sudah menulis ratusan cerpen yang tersebar di berbagai media dan memenangkan beberapa lomba menulis. Setiap hari muncul pengarang-pengarang baru dan lebih muda. Aku harus bersaing dengan mereka. Meski tidak selalu mudah, tapi dengan berbekal pengalaman dan jam terbang setidaknya aku cukup resisten menghadapi persaingan. Kunci dari semua itu adalah terus berlatih dan belajar. Semua itu penting bagi seorang pengarang. Karena pengarang akan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Demikian sekelumit dari kisah hidupku. Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi siapa saja, khususnya buat kaum disabilitas sepertiku. Terima kasih!
# Diceritakan oleh Eko Hartono #