Keterbatasan Fisik Bukan Halangan
Untuk Hidup Mandiri
Aku lahir pada tanggal 16 Juni 1969.
Sejak kecil aku menderita DMP (distrofia muskulorum progresinya). Yaitu
penyakit tentang struktur dan fungsi otot seran lintang yang diturunkan secara
genetik dan tidak berhubungan dengan struktur abnormal susunan syaraf pusat dan
syaraf tepi. Gejala DMP menyerupai kelumpuhan, tapi tidak berlangsung secara
cepat melainkan perlahan. Terjadi penurunan fungsi gerak otot, sehingga sering mengalami
kekakuan dan gerakan yang lemah. Waktu kecil aku masih bisa berjalan dan
beraktivitas seperti anak normal lainnya. Hanya setelah beranjak dewasa gerakan
otot terasa lemah dan berkurang kekuatannya.
Karena kondisi fisik yang makin melemah, aku hanya sempat mengenyam pendidikan
SMP. Sebenarnya aku ingin meneruskan ke jenjang SMA, tapi dengan kondisi yang
lemah aku tak bisa. Saat itu (1985) diskriminasi dalam bidang pendidikan masih
kental. Siswa yang diterima masuk ke sekolah negeri/umum disyaratkan sehat
jasmani dan rohani. Akhirnya, aku hanya bisa berdiam di rumah. Aku
membayangkan, bagaimana kelak hidupku dengan kondisi seperti ini.
Untuk menghibur diri aku menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku.
Kesenangan membaca membuat aku jadi terdorong ingin menjadi penulis. Aku
membaca kisah para pengarang ternama yang mampu hidup dari hasil menulis
karangan. Kupikir inilah dunia yang bisa kugeluti untuk mencapai harapan hidup
mandiri. Gairah mengarang menggebu dalam diriku. Untuk menunjang kegiatan itu
orangtuaku membelikan mesin ketik bekas yang sudah kuno. Dengan mesin ketik
yang kadang balok hurufnya terlepas itu aku mulai merintis jalan sebagai
pengarang.
Namun untuk menjadi pengarang yang mapan ternyata tidak semudah bayangan.
Berkali-kali tulisan yang kukirimkan ke media cetak seperti majalah atau koran
seringkali diretur alias dikembalikan oleh redaktur. Ada perasaan kecewa dan
putus asa menyekap diriku. Sempat terpikir dalam benakku, mungkin aku tak
berbakat jadi pengarang. Aku dihinggapi perasaan minder karena kulihat
tulisan-tulisan yang dimuat di media massa kebanyakan ditulis oleh orang-orang
dengan latar belakang pendidikan tinggi.
Tapi aku berusaha menepis rasa minder dengan mencoba terus menulis. Akhirnya,
sebuah cerpen karyaku berhasil tampil di sebuah media koran mingguan. Aku masih
ingat betul cerpen pertamaku yang berjudul “Dor” dimuat di mingguan “Dharma”
terbitan Semarang, pada pertengahan 1988. Tak terkira betapa senangnya aku.
Meski honor yang diterima sangat kecil; Rp. 5000.
Sejak itu aku semakin giat menulis karangan dan mengirimkan ke berbagai media
massa. Aku mulai belajar banyak hal dari dunia menulis. Aku sadar bahwa dalam
meniti karir sebagai pengarang, bukan hasil yang terpenting tetapi adalah
proses. Dan proses yang dijalani seorang pengarang adalah terus belajar dan
menghasilkan sebuah karya bagus, sementara hasil mengikuti dengan sendirinya.
Hingga sekarang (kurang lebih 25 tahun) aku menekuni dunia menulis. Jatuh bangun
dalam menjalani dunia yang tak sepi dari persaingan ini telah kualami.
Alhamdulillah, dari hasil menulis aku bisa hidup mandiri. Aku bisa menghidupi
istri dan kedua anakku yang sekarang sudah duduk di bangku kelas 12 SMA.
Penghasilan dari mengarang memang tidak menentu, tapi hal ini tak menciutkan
semangatku. Karena aku yakin rejeki sudah dijamin Tuhan. Semua tinggal
bagaimana kemauan dan kerja keras kita. Paling tidak aku telah berhasil
mengatasi salah satu problem besar yang dihadapi oleh banyak orang, yakni
pekerjaan. Banyak orang terpuruk oleh masalah pengangguran dan kemiskinan. Hal
ini kupikir bukan semata faktor kurangnya lapangan kerja atau pendidikan,
karena faktanya banyak lulusan SMA dan Sarjana menjadi pengangguran.
Aku sudah menulis ratusan cerpen yang tersebar di berbagai media dan
memenangkan beberapa lomba menulis. Setiap hari muncul pengarang-pengarang baru
dan lebih muda. Aku harus bersaing dengan mereka. Meski tidak selalu mudah,
tapi dengan berbekal pengalaman dan jam terbang setidaknya aku cukup resisten
menghadapi persaingan. Kunci dari semua itu adalah terus berlatih dan belajar.
Semua itu penting bagi seorang pengarang. Karena pengarang akan terus bergerak
mengikuti perkembangan zaman. Demikian sekelumit dari kisah hidupku. Semoga
bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi siapa saja, khususnya buat kaum
disabilitas sepertiku. Terima kasih!
# Diceritakan oleh Eko Hartono #