Minggu, 18 Oktober 2015

MAKNA HARI PANGAN SE- DUNIA

KONSEP KEKURANGAN PANGAN ITU, BAGI PEREMPUAN TIDAK ADA

AKSI bersama Aliansi Masyarakat mendukung Pangan Lokal dengan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta, pada tanggal 16 Oktober 2015 di Tugu Pall Putih, dengan mengusung tema "Kami Tidak Takut Lapar, Lumbung Kami Penuh Makanan", telah berlalu, namun gaungnya masih terasa dimana-mana, baik itu desa -desa maupun di kota, masih banyak yang memperingatinya dengan berbagai macam kegiatan.
Modernisasi teknologi pertanian mempunyai peran yang sangat besar atas tergesernya peran tenaga kerja perempuan di sektor pertanian. Walaupun secara keseluruhan modernisasi pertanian berdampakpada melemahnya lembaga ketenagakerjaan non upahan yang berbasiskan pada kegotongroyongan, sehingga di desa Jawa dikenal adanya sambatan dan bawon. Sambatan sendiri dalam lingkungan sosial budaya desa Jawa sebenarnya merupakan kerja bersama yang tidak mendapatkan upah. Begitu pula dengan bawon yang lebih berarti pemberian ulih-ulih dari orang yang mempunyai pekerjaan di sawah/ladang. Bawon sendiri sebelumnya tidak dianggap sebagai upah, karena sifatnya yang saling bergantian. Namun perkembangan saat ini telah menempatkan sambatan dan bawon dalam tata kerja sosial baru yang tidak berarti hanya sekadar kerja sukarela saling membantu.
Masuknya mesin penggilingan padi (huller) misalnya telah menggeser peran perempuan yang biasanya melakukan ngerek. Belum lagi sekarang ada mesin penyosohan/penggilingan padi yang bisaberkeliling desa, sehingga pekerjaan nyelep, nyosoh, dan sebagainya telah berpindah dari perempuan ke teknologi. Dengan demikian, teknologi pertanian dapat dikatakan telah mengambil alih keberadaan tenaga kerja perempuan. Bagi perempuan kehilangan pekerjaan sambilan di lahan pertanian berarti kehilangan sebagian tambahan penghasilan mereka. Mereka harus berhitung ulang tentang belanja rumah tangganya.
Lebih jauh, kerukunan itu sendiri mampu menciptakan harmonisasi. Harmonisasi inilah yang secara konseptual mengantisipasi adanya ‘krisis’ dalam rumah tangga/individu di dalam masyarakat Jawa. Dengan demikian, krisis yang terjadi pada individu atau satu rumah tangga tertentu adalah gangguan atas tatanan harmoni yang dibayangkan sudah ada. Sehingga nilai rukun diekspresikan dengan jelas dalam ideal memberi bantuan timbal balik dan berbagi beban (gotong-royong) dan pengambilan keputusan dengan konsultasi yang timbal balik (musyawarah).
Tidak ada orang mati kelaparan, yang ada orang mati karena malu. Ya malu berusaha, ya malu meminta, ya malu kepada tetangga. Kenapa malu? Ya malu karena tidak pernah rukun. Kalau ada orang punya gawe (hajat) tidak nyumbang (membantu bisa dalam bentuk uang atau tenaga), ada orang layon (meninggal dunia) juga tidak datang, ada kerja bhakti juga tidak kelihatan. Kalau ada yang mati kelaparan ujungnya tetangganya juga yang malu. Malu karena dianggap tidak rukun, 
tidak mau berbagi. Maka kalau hidup di desa harus rukun.
Krisis pangan seharusnya tidak terjadi di dalam masyarakat yang memegang prinsip kerukunan. Dengan  kerukunan, bercukupan pangan,  saling berbagi akan menjadi solusi. Artinya juga tidak akan ada yang menimbun secara berlebih hasil produksi mereka. Tidak berlebihan inilah 
di dalam masyarakat Jawa dikenal dengan prasaja, yang juga berarti sederhana. Konsep inipun masih sangat relatif, karena prasaja bukan berarti tidak berumah tembok atau tidak punya televisi. Prasaja lebih berarti hidup yang ‘apa adanya’. Kalau memang bisa membuat rumah tembok ya tidak menjadimasalah membuat rumah tembok, tapi kalau tidak mampu ya jangan dipaksakan. Sehingga prasaja tidak berarti kesamarataan secara konsumtif.
Konsep kekurangan pangan, bagi perempuan itu tidak ada, karena baginya apapun nama dan 
bentuk makanannya, yang penting mampu mengisi dan mengganjal perut. Begitu pula 
untuk makan,makanan harus ada begitu waktu makan tiba. Diakuinya memang tidak selamanya 
mereka makan nasi. Beras, jika memang tidak ada mereka ganti dengan nasi tiwul dari gaplek  (ketela pohon) atau nasi jagung. Untuk sayur-sayuran, dapat  memetik sayur  yang berada di ladang.
Kearifan lokal juga dapat ditemukan dari cara mengatasi ketiadaan minyak goreng. Mereka dapat membuat sendiri minyak goreng dari kelapa dengan cara memasak santan kelapa hingga berminyak. Minyak kelapa ini memang biasanya jauh lebih harum menyengat bila dibandingkan minyak goreng curah. Dengan  membuat sendiri minyak goreng,  mendapatkan keuntungan tambahanyaitu ampas dari santan yang menjadi minyak, yaitu blondo, yang dapat dijadikan 
makanan kecil. Karena blondo ini rasanya sudah manis dan gurih.

Masalah Keterkaitan perempuan terhadap tanah, air, udara dan hutan telah membuat perempuan harus berjuang keras merebut kembali jiwa-jiwa mereka yang telah terampas ekosistem hidupnya, akibat penetrasi kultur globalisasi yang telah memiskinkan perempuan.

Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan Allah, agar dengan bijaksana dapat merawat dan memelihara “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”. Dari bumilah sumber pangan bagi semuaorang dan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tersedia berlimpahlimpah. Diperlukan 
pertobatan rohanipada diri kita sebagai bentuk pertobatan ekologis yang ditindaklanjuti 
dengan pertobatan bersama (komunitas) hingga membawa perubahan pada penghormatan 
dan pemeliharaan alam ciptaan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana. Aneka gerakan dan kepedulian yang telah dikembangkan melalui bentuk solidaritas dan belarasa, 
kekuatan jejaring dengan komunitas lain serta Pemerintah, akan menjadi tindakan yang bermakna agar pencemaran lingkungan dikurangi dan pelestarian lingkungan hidup diperjuangkan. Kita yakin, melalui gerakan sederhana dan jejaring yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kearifan lokal akan semakin tumbuh dan berkembang. Saya berdoa bagi para petani yang dengan gigih menyediakan pangan bagi kita semua. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudari-saudara semua.*** PBK

Senin, 05 Oktober 2015

LUCUNYA NEGERIKU

Sopir-sopir di kota, berbasuh keringat berujung hutang
Tukang becak, berusaha bertahan di jalanan kota dan sesekali Pose bersama turis manca Negara. Hanya itu.
Kaum buruh, berburu target untuk sang tuan, meski upah tetap saja tak menjawab kebutuhan pokok keluarganya
Guru-guru ngaji mengeluh pilu, generasi kini tak lagi mengenal maaf dan malu
Tenaga honorer diselimuti keluh kesah, lantaran dapur tak mengepulkan asap lagi
Petani di desa, bercocok tanam tak balik modal dan
Anak-anak masih saja  percaya, jika penguasa berlaku jujur dan bijaksana

Gedung-gedung Wakil Rakyat memisahkan diri dari rumah kumuh rakyatnya
Di lapangan golf, sebagian elit buang-buang uang
Diskotik malam masih saja berteman baik dengan generasi yang hilang
Mal-mal hidup tergerus tanpa jiwa
Tubuh-tubuh berbalut fatamorgana
Perut-perut menabung ‘tai-tai’ kesombongan
Tak lagi mengenal empati dan kasih sayang
Jikapun  peduli, sudah diperhitungkan untung ruginya
Kota bertindak seenaknya, dan
Desa diam-diam mencontohnya 



Akhir-akhir ini dipertontonkan, pagelaran kekeliruan dalam bernegara.
Perihal kisruh di DPR RI, Kriminalisasi KPK, Makelar kasus dalam tubuh penegakan hukum,
Tragedi tiga buah kakao pada diri Minah (seorang perempuan tua), Luka lara Prita Mulyasari di depan hukum  (lantaran curhat perihal sakitnya via email tentang pelayanan yang tidak memuaskan oleh sebuah rumah sakit mentereng di Jakarta), dan hilangnya aktivis kemanusiaan. Belum lagi keamanan di negeri ini, susah dicari!

Bagaimana denga tokoh agama, sebagian di antara mereka,
saya tak percaya. Karena lupa dengan umatnya.
Bagaimana dengan Guru, sebagian di antara mereka, saya juga tidak percaya.
Pendidikan melahirkan generasi layaknya burung, bingung kembali ke kandangnya.
Bagaimana para politikus, sebagian di antara mereka, saya tak menaruh harap lagi.
Hobinya jual beli kepentingan.
Apalagi sebenatar lagi akan pesta PiIkada serentak di tahun 2015
Uuuuuh!

Minggu, 27 September 2015

NEGARAKU OH NEGARAKU

Beberapa tahun belakangan tindakan main hakim sendiri oleh masyarakat didiamkan saja oleh aparat penegak hukum, sehingga masyarakat makin menjadi jadi dan semakin mengerikan. Entah karena mencuri atau diduga mencuri atau menabrak warga atau isu santet, mereka menghajar sampai mati bahkan ada yang membakar hidup hidup. 

Ternyata main hakim sendiri MALAH MENULAR ke aparat yang bersenjata api, mereka saling hajar dan saling tembak satu sama lain.   Negara ini semakin tidak aman, tidak nyaman, mengerikan dan mematikan.

Peristiwa terakhir aparat bisa mengatur dan membuat tim Mission Imposible dan akan meneror siapa saja yg mereka inginkan, seperti penembakan tahanan di Cebongan Yogya. Anehnya tim ini dielu elukan masyarakat Yogya, bahkan setelah mereka melakukan persidangan.
Menurutku sederhana MAs Amin...negeri ni memang penuh rekayasa, mulai dari kasus Penggulingan kekuasaan, G30S PKI, kekerasan Orde baru di daerah DOM, Kasus Kerusuhan Mei 1998, SEmanggi, dll menunjukkan bahwa "NEGARA INI MEMILIKI SEJARAH YANG TERUS BERULANG TENTANG KEGAGALANNYA DALAM MELINDUNGI RAKYATNYA", saya saja secara pribadi merasa ndak ada jaminan keselamatan kok di Indonesia ini dan saya sangat tidak yakin negara ini menjamin keamanan saya dan bahkan keluarga saya, yang ada adalah saya berusaha untuk menjaga kedamaian dan persahabatan serta kekeluargaan di tempat yang saya tinggali dan bagaimana virus kedamaian dan perdamaian ini dapat terus meluas penyebarannya....karena sejarah kegagalan negara ini dalam melindungi kemanan dan keselamatan warganya terus dan terus menerus berulang....sehingga pilihan pragmatis yang kadang muncul adalah siapa yang bisa menjadi "pahlawan" yang mampu menggantikan peran negara dalam memberika rasa aman dan damai. Negara ini kehilangan figur tokoh negarawan..saat ini yang seringkali terlihat dan membuat muak di ranah publik adalah wacana yang lebih berorientasi pada uang dan kekuasaan belaka....tetapi apapun seburuk-buruknya negeri kita, lebih baik tetap di negeri kita sendiri, rumah kita sendiri yang harus kita jaga penuh dengan humanisme, kemartabatan, dan kehormatan. Salam untuk Indonesia yang lebih bermartabat.



NUWUN SEWU GUSTI........

Nuwun Sewu Gusti, Kulo Bade Resik-resik . . .

Ketulusan hati seorang ibu yang sederhana . . . !!!

Cerita ini sudah lama . . . tapi memorable, yah . . . !?!

Suatu hari di Semarang setelah kebetulan ikut misa katholik harian pagi, seperti 
biasa aku duduk di depan gua Bunda Maria . . . setelah selesai berdoa aku cuma duduk berdiam aja disitu . . .

Tiba-tiba  aku  tertarik  melihat  seorang  perempuan  setengah  baya.  Kalau tidak bisa  dikatakan  sudah sepuh . . .  Berjalan  tertatih.  sudah  agak  membungkuk dengan kemoceng ditangan dan serbet seadanya di pundaknya.

Sang wanita, datang menghampiri patung, dan berkata.  "Gusti  Yesus.   Gusti Maria . . .  nyuwun sewu . . . kulo bade resik-resik . . . !!!"
("Gusti Yesus . . . Gusti Maria . . . mohon maaf, permisi . . . saya mau bersih-bersih . . . !!!") 

Aku tertegun dan secara tidak sadar tertarik dengan apa yang dilakukan si ibu.

Dengan perlahan [karena faktor umurnya mungkin] dia mulai membersihkan area sekitar gua. menghilangkan debu yang ada . . . membersihkan sisa-sisa  lelehan lilin . . . mengganti karangan bunga yang sudah tampak layu..

Sekitar 1/2 jam berlalu . . . si ibu lalu selesai melakukan pekerjaannya.

Sebelum meninggalkan tempat bekerjanya, si ibu berkata lagi. "Gusti Yesus . . . Gusti Maria . . . sampun, kulo sampun rampung . . . mugi-mugi berkenan. Kulo bade nyambut gawe, mohon pangestune . . ."
(Gusti Yesus . . . Gusti Maria . . . sudah, saya sudah selesai.. mudah-mudahan berkenan. Saya mau bekerja . . . minta restunya . . ."

Sekali lagi aku terpana . . .doa yang sangat sederhana dari seorang yang juga 
sangat sederhana . . . tapi semuanya mencerminkan kepasrahan yang sangat 
dalam buatku . . .

Aku tertarik . . . jiwa isengku kumat . . . aku ikutin si ibu.  Di halaman   gereja yang juga bersebelahan dengan sebuah sekolah katholik yang cukup ternama di kota tu, ternyata beliau menggelar jualannya . . . si ibu jualan nasi pecel.

Agak jauh aku terus perhatikan si ibu.
Setelah beliau selesai dan siap berjualan . . . langsung aku datangi . . . aku  ingin tahu dia lebih jauh dan sekalian sarapan pikirku . . . basa  basi  sebentar   dan sambil nunggu pesenan aku coba ajak ngobrol beliau : [pake bahasa indonesia saja ya mumet, pakai bahasa Jawa . . .]

"Memang biasa bersih-bersih di gereja to bu . . . ???"
"Iya mas . . . sudah terbiasa dari dulu . . ."
"Sudah berapa lama bu . . . ???"
"Wah mas sejak gadis . . ."

Wuih. Sudah lama banget itu pasti pikirku . . . aku makin iseng nanyanya.

"Koq tadi tidak sisan ikut misa pagi to bu . . . ??? Dan aku kayanya tidak pernah  liat ibu selama ini . . . !?!"

Si ibu senyum. sambil ngasih nasi pecel pincu'an pesenanku . . . terus beliau ngomong. 

"Saya muslim mas . . ."

Deg . . . bengong aku dengarnya. Lama aku pegang tuh nasi pecel sambil bengong ngeliatin si ibu. Tidak karuan rasanya hati ini.

"Dari muda aku sudah jualan ditempat ini mas. aku dapat rejeki ditempat ini . . . kan tidak ada salahnya aku ingin menunjukkan rasa terima kasihku pada Yang Punya Tempat Ini. Aku ga salah to mas . . . ?!?"

Aku gelagepan ditanya gitu. "Wah ya tidak . . . to bu. Ibu hebat banget . . . Ibu dibayar . . . ?!?

"Saya tidak pernah minta itu mas. Saya ikhlas melakukannya . . . Sekedar menunjukkan rasa terima kasih saya. Tapi mungkin sekitar 5 tahun ini Romo Maringi memberi saya 100rb sebulan . . ."

"Putra berapa bu . . . ???
"3 mas. 1 laki dan 2 perempuan. sudah selesai semua mas . . ."
"Maksud ibu . . . ???"
"Yang perempuan dua-duanya  sudah  nikah  dan  hidupnya  lumayan,  yang  laki 4 tahun lalu sudah lulus sekarang sudah kerja . . ."
"Lulus apa bu . . . ???"
"Ekonomi mas . . . sarjana. Wah ibu ga ngerti mas masalah itu . . . yang penting mereka semua sudah bisa nguripi [menghidupkan] hidup mereka sendiri-sendiri. Saya sekarang tetep jualan karena memang ini yang cuma saya bisa mas . . . Tidak pengen nganggur di rumah . . ."
"Nyuwun sewu . . . bapak masih ada bu . . .?"
"Masih mas. tuh mbecak . . . mangkalnya juga disini . . ."

Aku bengong. Tidak bisa berkata-kata. Nunduk sambil makan. Tiba-tiba  si  ibu ngomong lagi.

"Mungkin saya keliatan aneh ya mas . . . saya muslim . . . saya sholat tapi saya masuk ke gereja, mungkin bahasa mas saya berdoa disana . . . saya sendiri tidakngerasa berdoa disana . . .
Saya cuma minta ijin dan minta restu saja. Tapi mungkin ini bisa buat mas bawa pulang nanti, kalau Tuhan itu ada dimana-mana,  dan  Dia  itu  untuk  siapa saja, tidak pernah membeda-bedakan . . .  manusia  saja mas  yang senengnya  membeda-bedakan.   
Maaf ya mas kalau saya salah . . . maklum orang kecil dan bodo saya . . . tidak pernah nyicipin bangku-sekolah . . ."

"Tidak bu . . . ibu tidak salah . . . ibu hebat . . . bahkan mungkin dari orang yang paling pinter sekalipun. Beruntung saya bisa ketemu ibu . . ."

Aku tidak sanggup ngomong apa-apa lagi . . . setelah pamit . . . aku jalan kaki pulang ke tempat aku tinggal dan hari itu tidak habis rasa kagumku pada si ibu. Dengan kesederhanaannya . . . beliau mengajarkan aku dan menunjukkan aku satu hal yang sangat luar biasa.

*Tuhan ada dimana-mana . . . Tuhan ada buat semua orang . . .*

Selama kita pasrah. berserah, percaya dan tulus meminta padaNya . . . 
Dia pasti menunjukkan jalan buat kita . . .
God Bless You, Mbok Narti . . .
God Bless You and your family.

[Kejadian itu mungkin sekitar 5 tahun lalu, dan 2 tahun setelah itu aku kesana lagi . . . beliau sudah tidak berjualan. padahal kangen aku pengen ketemu beliau . . . mungkin beliau sudah pulang kerumah Bapak di Sorga ataupun sudah dilarang anak-anaknya jualan lagi . . . dan berbahagia bersama cucu-cucunya. . .]  God Bless Us All . . .

Senin, 07 September 2015

TUHAN CINTA FEMINIS


Banyak orang salah mengartikan tentang kata feminisme. 
Bahkan kata feminisme sangat menakutkan bagi orang awam yang baru pertama kali mendengarnya. 
Dan konon, tidak sedikit orang yang terjangkit penyakit feministphobia” 
lantaran terlalu takut dengan kata feminis.Apa yang ditakutkan?
Tuhan saja memilih mencintai feminisme, kenapa kita yang notabene’ sebagai ciptaannya harustakut dengan feminisme. Ironis sekali! Seharusnya yang lebih ditakuti itu Tuhan sebagai 
pengatur jalan hidup kita, bukan feminisnya.

Seorang Feminisme bukanlah orang yang menakutkan. 
Feminisme adalah sebuah ideologi, bukan wacana. 
Dan feminisme mempunyai arti perlawanan, anti kekerasan, 
dan bebas dari penindasan, dominasi, hegemoni, serta ketidakadilan. 
Jadi, spesifik (kekhasan) feminisme adalah melawan penindasan. 
Tuhan saja tidak pernah menindas mahklukNya, bahkan Tuhan sangat mencintai mahklukNya, 
termasuk mahkluk feminisme.  Kenapa kita sebagai mahklukNya melakukan penindasan 
pada sesamanya?

Tuhan mencintai feminisme, dan membenci penindasan. 
Karena seorang feminis adalah bisa laki-laki atau perempuan yang memiliki kesadaran akan 
penindasan dan dominasi tehadap perempuan serta mengambil tindakan sadar 
untuk mengubah keadaan. 
Tuhan akan membuka jalan bagi umatNya yang mau berusaha untuk memperbaiki hidupnya. 
Oleh karena itu, seorang feminisme berusaha  melakukan perubahan yang bertujuan  tidak hanya 
menuntut dan berjuang demi persamaan bagi perempuan, akan tetapi demi suatu masyarakat yang 
adil, setara bagi perempuan maupun bagi laki-laki. 

Feminisme tidak sama dengan seksisme. Karena seksisme merupakan pendiskriminasian
terhadap individu berdasarkan jenis kelaminnya, laki-laki dan perempuan. Dan kenyataannya seksime adalah hubungan sosial dimana laki-laki merendahkan perempuan, yang harus dihapuskan dari budaya patriarkhi. 
Feminis juga tidak samadengan lesbian, 
tidak sama dengan pro seks bebas,  
tidak sama dengan tidak nikah, 
tidak sama dengan feminin, 
dan tidak sama dengan atheis.

Perempuan memiliki keunikan dan kondisi yang berbeda, sesuai dengan waktu, 
dimana perempuan itu berada, hadir, hidup, dan mati.
Setiap perempuan pasti mempunyai pengalaman mengenai ketubuhan yang tidak sama. 
Jika menstruasi ada yang biasa biasa saja, tetapi ada juga yang merasa sangat sakit sekali. 
Yang sama-sama sakit pun berdeda-beda. 
Dan perbedaan itulah suatu keindahan, bukan suatu ancaman. Feminisme menghargai 
pengalaman itu yang akan menjadi nilai tambah dalam membangun persaudarian (sisterhood).

Perempuan berhak memilih jalan hidupnya. 
Dan perempuan juga berhak merumuskan tentang dirinya sendiri, . 
Jangan sampai menjadi korban para kapitalis yang merumuskan 
bahwa seorang perempuan itu harus langsing, berkulit putih, berambut panjang dan lain sebagainya. 
Itu warisan budaya patriarkhi yang harus dihapuskan.  
Dan para feminisme berhak  untuk meyakini bahwa seorang perempuan bebas untuk 
merumuskan dirinya sendiri. 

Feminisme adalah orang yang melihat, merasakan, dan sadar atas ketidakadilan serta penindasan 
yang menimpa perempuan, kemudian menganalisis, lalu mengambil tindakan untuk mengubahnya.
Dan pergulatan seorang feminis tidak lepas dari pengalaman feminis itu sendiri. Menjadi seorang 
feminis tidak hanya berhenti pada pertanyaan dan gugatan, melainkan melakukan aksi untuk 
mengubah kondisi yang tidak adil menjadi lebih adil serta setara.

Haruskah seorang feminis menguasai dan pandai membicarakan teori-teori tentang feminisme? Tidak perlu! Untuk menjadi seorang feminis tidak harus 
kuliah dan meraih gelar S2. 
Seorang feminis berbeda dengan seorang feminologi, 
yang hanya menguasai dan memandang feminisme sebagai wacana saja, tanpa ada tindakan 
dan aksi nyata dalam dirinya. 
Feminolog pintar berbicara tentang feminisme di seminar-seminar, 
menulis artikel atau buku tentang feminisme, namun bersikap netral pada penindasan empirik 
di depan mata atau bahkan yang dialaminya sendiri.

Haruskah seorang feminis mengikrarkan diri sebagai feminisme? Tidak perlu! 
Tanpa adanya kesadaran, tidak ada keharusan untuk mengenal dan mengenakan predikat feminis’ 
pada diri kita. Tetapi, alangkah lebih baiknya bila kita mengenalnya. Sebab, agar kita 
tidak perlu phobia lagi menyebut diri sebagai seorang feminis.

Sebagai seorang feminis, harus memegang teguh prinsip dan nilai-nilai feminisme.tubuh, pikiran, 
perasaan, dan tindakannya harus memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kemerdekaan untuk 
memilih dan memutuskan hidup sebagai manusia yang utuh serta merdeka. Dan menjadi seorang 
feminis adalah membutuhkan waktu untuk berproses, 
a process of life time,  a life time process. 

Berakhir sudah dalam bergelisah dan berproses untuk menjadi seorang feminis. 
Dan itu merupakan keputusan politik yang terbaik, diambil atas dasar kesadaran penuh sepanjang 
hayat seseorang. Feminisme sebagai sebuah kesadaran dan perubahan.
Karenanya, Tuhan cinta feminisme. Sungguh bahagia.!!!


Salam Solidaritas.

SELAMAT DATANG DI BULETTIN BONNIE

SELAMAT DATANG DI BULETIN BONNIE

HALLO DUNIA ................

Senang sekali rasanya punya media BULETIN sendiri  tempat untuk berekspresi. Dengan harapan bisa menjadi panduan dalam meniti hari-hariku dan menyertai langkah-langkahku untuk menyongsong indanhya dunia.

Dari diri yang satu, manusia diciptakan. Berkembangbiaklah lelaki dan perempuan. Kehidupan yang indah tak akan kita saksikan, kecuali diperjuangkan oleh lelaki dan perempuan. Kehidupan yang adil tak akan kita nikmati, kecuali adil pada lelaki dan perempuan.

Nah, itu hanya sekelumit pembuka salam dari si pencipta BULETIN ini. Silahkan tinggalkan komentar apapun itu demi kenyaman dan kebahagiaan yang bisa memperbaiki isi BULETIN BONNIE di sini.

Terima kasih.

Salam Damai.