Senin, 07 November 2016

KEPERCAYAAN NISCAYA KETULUSAN, KESADARAN DAN CINTA



KEPERCAYAAN atau keimanan meniscayakan adanya ketulusan, kesadaran, dan cinta. Ketulusan artinya komitmen hati tanpa disertai tekanan atau paksaan. Sebab keimanan merupakan pilihan, dan pilihan hanya dapat diambil oleh seseorang yang dalam kondisi bebas berkehendak; merdeka.
Keimanan juga harus dilandasi cinta. Karena kepercayaan dan cinta merupakan dua hal yang saling berkait-kelindan dan tak bisa dipisahkan; kepercayaan adalah bukti cinta, begitupun cinta juga adalah bukti kepercayaan. Bukan kepercayaan jika tanpa cinta. Sebaliknya, tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Ini bisa dilihat dari cara pandang para sufi yang melandaskan keberagamaannya dengan cinta. Kepercayaan dan cinta tidak bisa dipaksakan.
“Perbedaan agama itu adalah kehendak Allah. Maka janganlah mengingkari kehendak Allah yang sudah ditetapkan.” Ketika keimanan menjadi absurd ketika berada dalam tekanan dan paksaan. Dikatakan dalam satu ayat, “Lâ ikrâh fî al-dîn,” (tidak ada paksaan dalam beragama atau memeluk agama). Huruf “” dalam ayat ini adalah huruf negasi, yang menurut gramatika Arab berfungsi sebagai nafy al-jins (menegasikan segala bentuk dan jenis yang dinegasikan). Sehingga ayat ini mengandung arti bahwa tidak boleh ada paksaan sama sekali dalam bentuk apapun dalam beragama. Kita tahu bahwa ada banyak bentuk, motif, dan jenis paksaan, misalnya paksaan dengan menggunakan cara-cara kekerasan, paksaan dengan cara-cara persuasif-lunak, paksaan dengan memanfaatkan kelemahan posisi seseorang atau golongan tertentu secara ekonomi atau politik dalam bingkai relasi mayoritas-minoritas, atau paksaan dengan memanfaatkan relasi patronase, dan bahkan paksaan atas ‘nama cinta’. Dan semua bentuk paksaan tersebut dilarang keras dalam al-Qur`an.
Keimanan bisa berpijar di dalam hati seseorang oleh sebuah hidayah (petunjuk) yang bisa diusahakan dengan adanya ketertarikan yang muncul secara alamiah akibat pergolakan batin yang serius dari akselerasi pembelajaran, pengalaman hidup, atau pencarian kebenaran, atau terpikat dengan sendirinya pada ajakan (dakwah) yang elegan, bukan oleh sebuah paksaan. Paksaan dalam beriman dilarang, karena bertentangan dengan karakter keimanan yang meniscayakan adanya pilihan bebas dan cinta.
Dalam menyerukan ajarannya Islam selalu mengedepankan suri tauladan yang baik dari Nabi, tutur kata yang baik, nasihat yang baik, dakwah dan dialog dengan cara-cara paling baik. Itu pun dilakukan kepada para penganut paganisme, yang ketika Islam pertama kali diproklamirkan sebagai agama disebut sebagai penyembah berhala. Akan tetapi Islam tetap menghargai setiap keyakinan sebagaimana terlihat dalam sejarah ketika Islam masuk ke Mesir, di para sahabat Nabi tetap mempertahankan patung-patung, piramida, dan tempat peribadatan agama-agama pagan yang ada. Demikian juga ketika Islam masuk ke Persia, orang-orang Majusi yang menyembah api dihormati dan bahkan filosofinya dicoba diakulturasikan dengan tasawuf dan menghasilkan teori al-isyrâq (illuminasi).
Sedangkan kepada para pemeluk agama samawi, yang disebut sebagai Ahlul Kitab, seperti Yahudi dan Nasrani, Islam hanya mengajak untuk mencari titik temu, kalimatun sawâ, tidak mengajak untuk mencari titik perbedaan yang berujung pada konflik horizontal dan perang atas nama agama [QS. Ali ‘Imran: 64]. Bahkan, Islam mensyaratkan secara mutlak bahwa keabsahan iman seorang muslim adalah dengan mengimani dan meyakini kitab-kitab suci yang diturunkan kepada umat sebelumnya, yaitu Taurat bagi umat Yahudi dan Injil bagi umat Nasrani [QS. al-Baqarah: 4], mengharuskan umat Muslim untuk bergaul dengan baik, dan boleh saling memberi hadiah makanan [QS. al-Ma`idah: 5].
Islam yang begitu indah dan mesra perlu dirawat, dengan mendudukkan ayat-ayat perang dan ‘terkesan’ intoleran pada konteksnya. Sebab, jika tidak maka akan berpotensi ditafsirkan secara harfiyah dan dipaksakan untuk diterapkan pada masa kini yang konteksnya berbeda. Di antaranya adalah ayat-ayat peperangan yang mewajibkan orang kafir yang kalah perang untuk membayar jizyah.
Jadi, persoalan pembayaran jizyah bukan persoalan teologis Islam vis-a-vis non-Islam. Akan tetapi murni persoalan politik dan undang-undang perang yang berlaku pada masanya, dan sekarang itu dianggap sudah tidak relevan, karena termasuk pelanggaran HAM. Islam sendiri akan selalu merelevankan dirinya dalam konteks tempat dan masanya, shâlih li kull zamân wa makân. Islam bersifat adaptif sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaidah fikih, “Taghayyur al-ahkâm bi taghayyur al-azminah wal al-amkinah,” (hukum bergerak dinamis sesuai dengan perubahan kondisi masa dan tempat).
Demikian juga ayat-ayat yang mengesankan disharmonisasi relasi antara umat Muslim dan non-Muslim itu turun dilatarbelakangi posisi defensif umat Muslim yang membela diri dari serangan non-Muslim, bukan ofensif. Karena misi Islam sejak awal adalah sebagai agama penebar kasih sayang, rahmatan li al-‘âlamîn. Islam membela dirinya demi tegaknya cinta kasih.***

KEPERCAYAAN NISCAYA KETULUSAN, KESADARAN DAN CINTA



KEPERCAYAAN atau keimanan meniscayakan adanya ketulusan, kesadaran, dan cinta. Ketulusan artinya komitmen hati tanpa disertai tekanan atau paksaan. Sebab keimanan merupakan pilihan, dan pilihan hanya dapat diambil oleh seseorang yang dalam kondisi bebas berkehendak; merdeka. Keimanan juga harus dilandasi cinta. Karena kepercayaan dan cinta merupakan dua hal yang saling berkait-kelindan dan tak bisa dipisahkan; kepercayaan adalah bukti cinta, begitupun cinta juga adalah bukti kepercayaan. Bukan kepercayaan jika tanpa cinta. Sebaliknya, tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Ini bisa dilihat dari cara pandang para sufi yang melandaskan keberagamaannya dengan cinta. Kepercayaan dan cinta tidak bisa dipaksakan.
“Perbedaan agama itu adalah kehendak Allah. Maka janganlah mengingkari kehendak Allah yang sudah ditetapkan.” Ketika keimanan menjadi absurd ketika berada dalam tekanan dan paksaan. Dikatakan dalam satu ayat, “Lâ ikrâh fî al-dîn,” (tidak ada paksaan dalam beragama atau memeluk agama). Huruf “” dalam ayat ini adalah huruf negasi, yang menurut gramatika Arab berfungsi sebagai nafy al-jins (menegasikan segala bentuk dan jenis yang dinegasikan). Sehingga ayat ini mengandung arti bahwa tidak boleh ada paksaan sama sekali dalam bentuk apapun dalam beragama. Kita tahu bahwa ada banyak bentuk, motif, dan jenis paksaan, misalnya paksaan dengan menggunakan cara-cara kekerasan, paksaan dengan cara-cara persuasif-lunak, paksaan dengan memanfaatkan kelemahan posisi seseorang atau golongan tertentu secara ekonomi atau politik dalam bingkai relasi mayoritas-minoritas, atau paksaan dengan memanfaatkan relasi patronase, dan bahkan paksaan atas ‘nama cinta’. Dan semua bentuk paksaan tersebut dilarang keras dalam al-Qur`an.
Keimanan bisa berpijar di dalam hati seseorang oleh sebuah hidayah (petunjuk) yang bisa diusahakan dengan adanya ketertarikan yang muncul secara alamiah akibat pergolakan batin yang serius dari akselerasi pembelajaran, pengalaman hidup, atau pencarian kebenaran, atau terpikat dengan sendirinya pada ajakan (dakwah) yang elegan, bukan oleh sebuah paksaan. Paksaan dalam beriman dilarang, karena bertentangan dengan karakter keimanan yang meniscayakan adanya pilihan bebas dan cinta.
Dalam menyerukan ajarannya Islam selalu mengedepankan suri tauladan yang baik dari Nabi, tutur kata yang baik, nasihat yang baik, dakwah dan dialog dengan cara-cara paling baik. Itu pun dilakukan kepada para penganut paganisme, yang ketika Islam pertama kali diproklamirkan sebagai agama disebut sebagai penyembah berhala. Akan tetapi Islam tetap menghargai setiap keyakinan sebagaimana terlihat dalam sejarah ketika Islam masuk ke Mesir, di para sahabat Nabi tetap mempertahankan patung-patung, piramida, dan tempat peribadatan agama-agama pagan yang ada. Demikian juga ketika Islam masuk ke Persia, orang-orang Majusi yang menyembah api dihormati dan bahkan filosofinya dicoba diakulturasikan dengan tasawuf dan menghasilkan teori al-isyrâq (illuminasi).
Sedangkan kepada para pemeluk agama samawi, yang disebut sebagai Ahlul Kitab, seperti Yahudi dan Nasrani, Islam hanya mengajak untuk mencari titik temu, kalimatun sawâ, tidak mengajak untuk mencari titik perbedaan yang berujung pada konflik horizontal dan perang atas nama agama [QS. Ali ‘Imran: 64]. Bahkan, Islam mensyaratkan secara mutlak bahwa keabsahan iman seorang muslim adalah dengan mengimani dan meyakini kitab-kitab suci yang diturunkan kepada umat sebelumnya, yaitu Taurat bagi umat Yahudi dan Injil bagi umat Nasrani [QS. al-Baqarah: 4], mengharuskan umat Muslim untuk bergaul dengan baik, dan boleh saling memberi hadiah makanan [QS. al-Ma`idah: 5].
Islam yang begitu indah dan mesra perlu dirawat, dengan mendudukkan ayat-ayat perang dan ‘terkesan’ intoleran pada konteksnya. Sebab, jika tidak maka akan berpotensi ditafsirkan secara harfiyah dan dipaksakan untuk diterapkan pada masa kini yang konteksnya berbeda. Di antaranya adalah ayat-ayat peperangan yang mewajibkan orang kafir yang kalah perang untuk membayar jizyah.
Jadi, persoalan pembayaran jizyah bukan persoalan teologis Islam vis-a-vis non-Islam. Akan tetapi murni persoalan politik dan undang-undang perang yang berlaku pada masanya, dan sekarang itu dianggap sudah tidak relevan, karena termasuk pelanggaran HAM. Islam sendiri akan selalu merelevankan dirinya dalam konteks tempat dan masanya, shâlih li kull zamân wa makân. Islam bersifat adaptif sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaidah fikih, “Taghayyur al-ahkâm bi taghayyur al-azminah wal al-amkinah,” (hukum bergerak dinamis sesuai dengan perubahan kondisi masa dan tempat).
Demikian juga ayat-ayat yang mengesankan disharmonisasi relasi antara umat Muslim dan non-Muslim itu turun dilatarbelakangi posisi defensif umat Muslim yang membela diri dari serangan non-Muslim, bukan ofensif. Karena misi Islam sejak awal adalah sebagai agama penebar kasih sayang, rahmatan li al-‘âlamîn. Islam membela dirinya demi tegaknya cinta kasih.***

Kamis, 13 Oktober 2016

APA ARTI KEBEBASAN UNTUKMU?


Apa arti kebebasan untukmu ?
Kalau menurut saya, kebebasan adalah
hak manusia untuk mencapai kebahagiaan individu
tanpa merusak kebebasan individu lain.

Kebebasan merupakan tempat bergantungnya
ketinggian harga diri manusia. Setiap kebebasan
hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan.
Akal dan kecerdasan tidak ada artinya tanpa kebebasan.

Kebebasan juga dapat berarti kehendak bebas
manusia yang dengannya kita dapat memutuskan
suatu hal dari banyak pilihan-pilihan dan peristiwa
yang terjadi dalam hidup kita.

Kita memiliki kebebasan, untuk mencintai atau membenci...
Marah atau memaafkan...
Terpuruk atau bangkit...
Bahagia atau sebaliknya...

Kita bebas memilih atau mengontrol respon
dari setiap kejadian yang datang dalam kehidupan kita.
Itulah kebebasan.

TAPI... walaupun kita memiliki KEBEBASAN dalam
memilh respon untuk setiap kejadian, saya sarankan
kita tetap fokus memilih pada KEBEBASAN yang
bersifat POSITIF.

Rangkullah kehidupan.
Rengkuhlah cinta baru.
Penuhilah tawa, keriangan di setiap hari-hari
Bukalah hati untuk kemungkinan-kemungkinan yang baik:
rezeki, pekerjaan, orang-orang, lingkungan baru
yang membahagiakan.

Anda BEBAS untuk menjalani itu semua!
Dan menjadi bahagia.

Mulai sekarang, saya harap pikiran dan hati
TERBEBASKAN dari apapun yang sempat mengungkung selama ini.
Apapun hal yang membuat hidup tidak bahagia.

Tuhan tidak pernah mengutuk kita, namun kitalah yang
sering mengutuk kehidupan dan diri kita sendiri.

Kita memiliki berbagai macam kebebasan,
Pilihlah kebebasan-kebebasan yang baik.
Buatlah hal-hal baik, terbaik yang bisa kita lakukan setiap harinya.

Selalu pilih respon terbaik, pikiran & emosi baik, pada setiap kejadian.
Jalanilah setiap kebebasan dan kehidupan baru dengan
energi positif, hingga menjadikan hidup ini pernuh warna... :-)

Minggu, 09 Oktober 2016

TRAINING KEORGANISASIAN SP KINASIH


Persoalan – persoalan perempuan  yang saat ini banyak dialami oleh perempuan  tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin tetapi juga oleh faktor-faktor lain. Misalnya faktor adat, budaya, kelas sosial, agama, ekonomi, politik, bahkan sebagai warga negara  yang dipengaruhi oleh sistem politik-ekonomi secara lokal, nasional maupun internasional.  Walaupun sebenarnya laki – laki juga memiliki masalah yang sama tetapi karena pengalaman yang berbeda menjadikan perbedaan cara mensikapi dan mencari solusi nya. Konstruksi budaya yang sudah mendarah daging menjadi perempuan lebih memilih diam daripada mengungkapkan apa yang dialaminya.
Semua persoalan perempuan tidak dapat di selesaikan oleh perempuan itu sendiri. Melainkan butuh adanya kerjasama dan saling menguatkan antar perempuan selain juga ada pula dukungan dari laki – laki tentunya. Disinilah di butuhkan adanya sebuah organisasi yang menjadi sebuah wadah bagi perempuan untuk dapat memberdayakan diri sendiri,menguatkan orang lain dan juga sebagai sarana untuk melakukan perjuangan untuk mengentaskan perempuan dari keterpurukan yang dialaminya.
Organisasi  tentu saja memiliki visi dan misi yang menjadi landasan anggota dan semua elemen  dalam melakukan tugasnya. Kebersamaan dan kesetaraan  hubungan menjadi sebuah syarat organisasi  dapat berkembang dengan baik. Kebersamaan dalam memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan akan tercapai apabila gerakan perempuan yang di bangun dari berbagai  organisasi bersatu.

Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta dalam rangka ikut membangun gerakan perempuan dan sebagai upaya menjawab persoalan perempuan yang terjadi akan menyelenggarakan TRAINING KEORGANISASIAN. Training yang  akan di lakukan selama 2 hari harapannya akan mampu memberikan pemahaman terkait Perserikatan Solidaritas Perempuan Kinasih sebagai organisasi perempuan.

      Tujuan yang ingin di capai pada Training Keorganisasian  adalah :
1.    Memberikan pemahaman kepada peserta terkait dengan Organisasi Perserikatan Solidaritas  Perempuan Kinasih Yogyakarta.
2.     Memberikan pemahaman kepada peserta training terkait manajemen organisasi berperspektif feminis.
3.      Peserta mendapatkan ketrampilan terkait dengan bagaimana teknik – teknik berorganisasi.

Sementara itu capaian yang diharapkan yaitu:
    1.      Peserta paham akan organisasi Solidaritas Perempuan Kinaasih Yogyakarta
    2.      Peserta paham manajemen organissasi feminis
    3.   Peserta trampil dalam teknik – teknik berorganisasi
Pelaksanaan dari training Keorganisasian  di kemas dalam 2 hari pertemuan yaitu :
Hari          : Sabtu-Minggu, 17-18 September 2016
Tempat     : KANA Mountain View & Convenion Hotel , Jl.Giri Kondang,(Selatan Lap. Tenis) Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Tlp; (0274) 895342, 4464350

Peserta  Training Keorganisasian dalah dari unsur :
1.      BEK dan Staf SP Kinasih
2.      Anggota SP Kinasih
3.      Dampingan SP Kinasih di wilayah Pleret dan Sidoarum

Fasilitator yang akan mengisi pada Training Keorganisasian :
1.   Dari Badan Eksekutif Nasional (BEN) dan Divisi Penguatan Organisasi (PO) Seknas; Hasmia Jalil
2. Dari Badan Eksekutif Komunitas SP Kinasih Yogyakarta ; Bonnie Kertaredja dan Asih Nur Candra

Demikian sekilas informasi mengenai Training Keorganisasian yang telah dilaksanakan oleh Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta. Pemahaman akan organisasi menjadikan anggotanya menjadi paham dan mengerti akan arah gerak organisasi sehingga akan menjadi landasan dalam memperjuangkan hak – hak perempuan dalam melakukan pengorganisasian . *** BK

Kamis, 06 Oktober 2016

WISATA HALAL GUMUK PASIR



Gumuk Pasir terletak di Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta. Keunikan dan keindahannya menjadi ciri khas tersendiri karena di sini kita serasa bebas di alam luas. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke Timur Tengah maupun Afrika, karena Indonesia pun juga punya. Selain menjadi tempat wisata, tempat ini juga menjadi pusat penelitian dan terdapat sebuah Museum Geospatial Gumuk Pasir yang terletak di sebelah baratnya Gumuk Pasir. Bahkan di tempat ini rencananya akan didaftarkan ke dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO WORLD HERITAGE. Mengapa demikian? Ternyata Gumuk Pasir ini hanya satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan hanya terdapat di 4 negara. Uniknya lagi seharusnya fenomena ini terjadi pada daerah kering dan bukan di daerah tropis seperti di Indonesia, luar biasa bukan?




Pembentukan fenomena alam ini pun sungguh menakjubkan. Berawal dari hembusan angin yang membawa pasir-pasir dari material vulkanik Gunung Merapi berupa batuan yang pecah hingga menjadi kerikil dan akhirnya terbentuk butiran pasir, lalu pasir ini berterbangan ke arah laut melalui Sungai Progo dan Sungai Opak sampai ke muara. Kemudian pasir-pasir tersebut menyatu dengan air dan berubah menjadi butiran pasir halus. Melalui proses ribuan tahun sehingga butiran-butiran pasir halus tersebut akhirnya menjadi sebuah Gumuk Pasir. Sungguh cantik permukaan alam ini.

Gumuk Pasir ini berkoordinat di S8.014547° dan E110.310413°. Dengan latar belakang kondisi alam itulah, suhu di kawasan Gumuk Pasir ini selalu berubah-ubah sama halnya seperti gurun pasir di Timur Tengah maupun Afrika. Saat siang hari panas di tempat ini sangat terik tapi jika di malam hari udara akan berubah menjadi sangat dingin


Saat itu, saya dan beberapa teman saya berkelana menuju ke gumuk ini pada sore hari. Sejuk sekali suasananya karena gundukan pasir dan pemandangannya sangat meneduhkan mata. Di sini kami bebas beroffroad ria, berputar-putar mengelilingi sepanjang gumuk, gila-gilaan pokoknya.
Banyak penduduk sekitar yang memanfaatkan potensi pariwisata di gumuk ini dengan menyewakan kuda sehingga makin mirip saja keadaan di Parangkusumo dengan Gurun Sahara. Bedanya jika di Gurun Sahara menggunakan onta sedangkan di Parangkusumo menggunakan kuda.


Di sini kita bisa berekspresi dan menyalurkan bakat kita terutama bagi para pecinta fotografi. Dan memang di tempat ini sering dijadikan sebagai objek untuk lokasi syuting film, iklan, video klip, hingga foto-foto prewedding karena keunikan dan keindahan pemandangannya sangat unik. Dan memang waktu terbaik untuk berkunjung ke Gumuk Pasir ini saat sore hari. Selain udaranya yang tidak begitu panas pada sore hari jika beruntung kita juga dapat menikmati fenomena matahari terbenam, super sekali pokoknya. 
 
Tempat ini cocok dijadikan untuk tempat bersantai atau yang ingin melampiaskan hasratnya beroffroad ria dengan motor maupun mobil. Tentunya waktu yang tepat untuk berkunjung adalah sore hari. Dan tempat ini juga sering dijadikan tempat latihan manasik haji oleh umat muslim yang mau berangkat haji, untuk melatih fisik dan mental calon jamaah haji. Itulah mengapa orang kemudian dengan wisata halal, karena gumuk pasir ini merupakan padang Saharanya Indonesia sebagai Manasik Haji.*** BK 1 okt 2016