Rabu, 20 Mei 2026

Badan Aktif dan Segar di Usia yang Tak Muda Lagi Bisa Dicapai dengan makan Sayuran Sawi, kok Bisa?

Nenek di Rumah Sebelah Makin Segar Bugar Dengan Rutin Makan Sayuran ini, kok Bisa?

BuletinBonnie.blogspot.com Badan sehat meski usia sudah tak muda lagi memang menjadi dambaan hampir setiap orang. Tak semudah yang dibayangkan, ternyata badan segar dan aktif bisa dengan mudah disapatkan dengan makan sayuran. bukan sembarang sayuran, ternyata badan sehat segar dan aktif meski usia tak muda lagi justru bisa dengan mudah dicapai dengan makan sayur sawi, kok bisa?
emiliki gaya hidup yang sehat memang menjadi hal yang wajib yang harus dilakukan.  Gaya hidup yang sehat bisa dimulai dari rajin olahraga. Tak hanya itu, mengonsumsi makanan yang bergizi wajib dilakukan.  dengan mengonsumsi makanan sehat, kebutuhan gizipun akan terpenuhi.  Bahkan lebih bagus alagi, jika kita mengonsumsi makanan sehat, tubuh jadi bisa terhindar dari berbagai penyakit. Sehingga saat tua nanati kita bakal tetap segar dan bugar. Yang lebih pentinnya lagi kita jadi bisa tetap bergerak aktif.
Nah,  kalau ingin sehat terus baiknya anda harus mulai makan sayuran rebus ini. Karena sayuran rebus ini memiliki banyak manfaat baik untuk tubuh kita. 
Manfaat Makan Sawi hijau  rebus setap hari
 
 


Selasa, 20 April 2021

KUE CENIL DAN DADAR GULUNG


Kue Cenil

KUE CENIL

Pantun Kue Cenil ini mengingatkan kita untuk terampil. Menurut sejarah, munculnya kue ini adalah hasil dari ide-ide terampil nenek moyang kita dalam mengolah sumber pangan. Kue Cenil adalah jajanan pasar berasal dari Pacitan Jawa Timur. Tekstur yang kenyal melambangkan persaudaraan. Disajikan warna-warni adalah bentuk kreativitas agar mengundang selera. Demikianlah hidup ini, perlu terampil dalam merespon setiap perubahan, setiap keadaan. Ada peribahasa mengatakan, "Lebih baik menyalakan lilin, dari pada keluhkan kegelapan". Inilah bentuk nyata keterampilan dan kreativitas yang harus ditunjukkan oleh setiap individu dalam kehidupannya. Belajar dari hidup terampil nenek moyang dalam menyikapi langkanya pangan, selayaknya kini kita terampil dalam segala bidang ilmu sesuai kebutuhan. Orang terampil tiada mengeluhkan rezeki, karena orang terampil selalu cerdas dan berani berinovasi dan berkreasi. Demikian.

https://youtu.be/eP6-oE-PnUc


DADAR GULUNG

Dadar gulung isi durian, Jangang bingung meski sendirian. Tak dapat dipungkiri rasa kehilangan, kesepian, dan segala macam kenangan membuat hati sedih berduka. Demikianlah kondisi batin orang-orang yang ditinggal "pergi" mereka yang dicintai. Ibarat kipas angin. Saat dicabut energi listriknya, Ia takkan bisa langsung berhenti begitu saja. Butuh waktu hingga kipas angin berhenti sempurna. Demikian pula butuh proses untuk dapat berhenti dari sedih dan duka karena ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya. Tak perlu berdiam dalam kesedihan atau kebingungan terlalu lama. Hidup artinya terus bergerak, terus berubah, berproses sesuai hukum-hukumnya. Karenanya teruslah bergerak, berproses dengan energi positif. Enegi positif inilah yang akan membuat cersh ceria hidup ini. Kembali pada tugas dan tanggung jawab adalah salah satu cara untuk bangkit. Melihat orang-orang terdekat yang masih membutuhkan kasih sayang dan sentuhsn anda juga cara untuk bangkit. Ayo semangat bangkit untuk menggapai harapan. Demikian

https://youtu.be/IQ_bo4q7Z7s

Dadar Gulung



Sabtu, 28 Maret 2020

PENDERITA ASMA RENTAN TERHADAP SERANGAN COVID-19




Penderita asma disinyalir termasuk kelompok masyarakat yang lebih rentan terkena penyakit karena virus, termasuk virus Corona penyebab Covid-19. Meski demikian, mereka diimbau untuk tidak panik dalam menyikapi situasi saat ini, di mana Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO). 

Dokter Spesialis Paru RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dr. Jatu Aphridasari, Sp.P (K), menyampaikan tidak ada trik khusus bagi para penderita asma untuk mencegah infeksi virus Corona. Menurut dia, apa yang harus dilakukan para penderita asma unuk mencegah serangan virus ini pada dasarnya sama dengan orang pada umumnya. 
“Tidak ada trik khusus, yang penting perhatikan agar asmanya tidak kambuh,” jelas dr. Jatu saat menjadi narasumber talkshow yang disiarkan secara live di media sosial RSUD Dr. Moewardi, Rabu (18/3/2020).

Pola hidup sehat dan jaga kebersihan dr. Jatu menjelaskan langkah pencegahan penularan virus Corona yang baik dilakukan oleh para penderita asma maupun masyarakat umum, yakni dengan menjaga pola hidup sehat, kebersihan diri serta lingkungan. Menjaga pola hidup sehat bisa diimplementasikan dengan aktivitas: Makan makanan bergizi, cukup istirahat atau tidur, rajin olahraga, dan tidak merokok. 

Sementara, kebersihan diri dan lingkungan bisa diterapkan dengan: 
Rajin mencuci tangan pakai sabun,  Melakukan etika batuk dengan benar,  Senantisa menggunakan pakaian yang bersih,  Menjaga kebersihan rumah atau tempat kerja.  dr. Jatu menilai, arahan pemerintah untuk melakukan social distancing atau pembatasan interaksi dengan disiplin sekarang juga sangat baik dilakukan guna mencegah penularan virus Corona. 

“Bagi penderita asma akut, pertama, lakukan pencegahan terjadinya serangan virus dengan kebiasaan baik dan terapkan anjuran pengobatan yang sudah diberikan,” jelas dr. Jatu.  Terkait konsumsi multivitamin dengan maksud untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dr. Jatu menilai, para penderita asma boleh saja melakukan hal itu asal tetap waspada dalam pemilihan multivitamin. “Untuk multivitamin terserah tapi waspada juga. Lebih baik konsultasi juga dengan dokter,” kata dia. dr. Jatu menambahkan, para penderita asma sebaiknya bisa juga menggunakan masker bedah saat berisnteraksi dengan orang lain untuk mencegah penularan virus Corona.

Bonnie, salah satu peserta yang ikut dalam talkshow itu, seorang yang menderita asma bisa melakukan pencegahan agar smanya tidak kambuh dengan mengkonsumsi multiviatin Bee Bread yang mampu memberikan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang covid-19. *(BN)






Senin, 04 September 2017

BUNUH DIRI MASSAL PERGURUAN TINGGI

MENUJU PENDIDIKAN ASEMBLING

AKHIR-akhir ini di media sosial sedang hangat didiskusikan dan diperdebatkan perihak Universitas disruption yang di picu artikel Jim Clifton, "Univesitas Disruption is Coming". Isinya secara garis besar mempertanyakan dan mengkhawatirkan peran masa depan pendidikan tinggi dalam menyuplai tenaga kera industri di dunia.

Pemicu dituliskannya artikel tersebut adalah iklan Google dan Ernst & Young yang akan menggaji siapun yang bisa bekerja tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari perguruan tinggi (PT). Iklan dari Google dan Ernst & Young tersebut seperti halilintar menyambar di siang bolong. Ini sangat mengejutkan dan menyambar kemapanan yang telah dinikmati oleh PT di seluruh dunia dalam perannya sebagai penyuplai tenaga ahli, hasil riset, dan pemikiran-pemikiran yang dibutuhkan dunia industri.

Namun, peran penting PT. saat ini seakan telah dinihilkan oleh Google dan Ernst & Young, yang sebentar lagi barangkali diikuti oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang lainnya.Lonceng kemtaian PT seakan telah dibunyikan oleh kedua perusahaan raksasa tersebut, menyusul artikel yang ditulis oleh Terry Eagleon, berjudul "The Slow Death of the University" (2015).

Artikel Eagleton memberikan gambaran bahwa PT sedang melakukan bunuh diri massal melalui pengabaian pada tugas utamanya, yakni "pendidikan", karena telah bergeser lebih mengutamakan "riset dan publikasi". Lebih menyedihkan lagi, tradisi hubungan dosen dan mahasiswa yang seharusnya berbasis "guru dan siswa" telah bergeser menjadi "manager dan pelanggan".

Khusus di Indonesia, fenomena bunuh diri massal ini ditambahkan oleh keluhan bahwa para dosen saat ini lebih mementingkan meng-update LKD (Laporan Kinerja Dosen) karena berkaitan dengan tunjangan kinerja dosen daripada meng-update materi kuliah yang diampunya.

Pertanyaan menarik untuk diajukan adalah apakah eksistensi pendidikan tinggi akan segera berakhir ataukah tetap akan ada tetapi arahnya akan berbelok tajam tidak mengikuti garis linier lagi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kiranya :

1. Melihat lagi ke belakang sejarah kaitan antara pengetahuan, sains, dan teknologi.
2. Tahap-tahap perkembanganya
3. Esensi dan sifat dasar kaitan ketiganya dalam perspektif kekinian
4. Pengaruhnya pada arah pendidikan tinggi kita di masa depan.

Sejak kelahirannya pada abad ke 17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan sains, dan teknologi. Bahwa pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains yang untuk selanjutnya sains yang akan berperan ibu kandung dari kelahiran teknologi. Pengetahuan tentang benda-benda dilangit yang diasarkan pada pengamatan yang berualang, pada akhirnya telah melahirkan prinsip serta dalil-dalil di bidang sains. Kemudian di susul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipoesis yang di bangun oleh abstraksi sains.

Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber  berpikir atau guru bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak dikemudian ahri, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasikan dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkan melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit.

Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, ang usianya sampai saat ini baru sekitar 200 tahun, tetapi pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa.(Bersambung.....)

 

Minggu, 05 Maret 2017

Dialog Publik Perempuan dan Toleransi

 

Yogyakarta sudah lama menjadi kota yang toleran. Ia sudah menjadi rumah bagi jutaan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sejak pasca kemerdekaan. Akan tetapi, fakta ini membutuhkan penguatan dan menemukan momentumnya pada tahun 2012 dengan deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance di Monumen Serangan Umum 11 Maret di Jalan Malioboro. Deklarasi ini bukan tanpa maksud. Ia bertujuan untuk meneguhkan kembali Yogyakarta yang sudah menjadi rumah bersama bagi orang-orang beragam agama, etnis, ras, budaya, dan juga sosial status. Berbagai bentuk kekerasan atas kelompok lain yang terjadi di Yogyakarta harus segera dihentikan dengan keistimewaan Yogyakarta.
Deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance sudah berumur 4 tahun. Bagaimana kondisi keberagamaan agamanya? Laporan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta diatas sudah memberi penilaian bahwa kondisinya tidak membaik, namun malah memburuk. Kita boleh setuju ataupun tidak atas kesimpulan diatas, akan tetapi fakta menyebutkan bahwa terjadi kekerasan disana dan melibatkan kelompok agama. Persoalan bahwa ia bisa kita labeli dengan kekerasan atas nama agama atau tidak adalah persoalan lain.
 
Di Yogyakarta sendiri mulai bermunculan seperti pemaksaan pemakaian jilbab untuk perempuan dan pembubaran berbagai diskusi padahal Yogyakarta dikenal sebagai Zero Intolerance yang menyediakan ruang-ruang public bebas untuk berkumpul dan berdiskusi.  Secara nasional dampak kekerasan seperti domino. SP sendiri sekarang menjadi pelopor untuk mendorong isu keberagaman dengan membuat laporan pelanggaran HAM dan intoleransi. Perempuan dianggap tidak banyak menjadi korban secara fisik padahal perempuan rentan menjadi korban dari kekerasan berlapis, kata Donna Swita dari divisi Kedaulatan Perempuan Atas Seksualitas, SP Nasional yang memberi gambaran masalah Perempuan dan Toleransi dalam dialog Publik  yang diadakan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta, Jumat/3/2017, di hotel Ruba Graha Yogyakarta.
Pembicara akan memaparkan situasi terakhir dari masing-masing agama. Mulai dari agama Hindu, ibu Ni Luh Kasani dari Wanita Darma Indonesia. Kedua ibu Yudith Liem, pernah aktif di UKDW dan anggota SP di Makassar, Jakarta dan Yogyakarta juga coordinator local Pemuda Kristen Yogyakarta. Berikutnya Gus Irwan Marjuki, yang familiar dalam gerakan massa, pengasuh pondok pesantren di Melangi, penulis buku tentang Islam secara Toleran. Selanjutnya bapak Agung Supriyono, berkantor di Kepatihan sebagai Kesbangpol. Ada Ki Wahono dari UST.*** (Bonnie)

Selasa, 17 Januari 2017

GERAKAN FUNDAMENTASLIS DI YOGYAKARTA


Maraknya fundamentalisme di berbagai tempat juga telah memperpanjang deretan masalah yang dihadapi perempuan. Fundamentalisme yang mengandalkan sikap radikal dan intepretasi terhadap tafsiran ajaran agama yang sempit dan sepihak masih digunakan sebagai alat untuk mendominasi dan membatasi ruang gerak atau ekspresi politik perempuan serta mengontrol tubuh, fikiran, hasil kerja dan mobilitas perempuan. Atas nama tafsir agama, perempuan dipinggirkan bahkan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan otensitas nilai-nilai agama yang lebih harmoni.
Dari tahun ke tahun kekerasan dan kriminalitas bertambah. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini ada beberapa kasus mulai dari ancaman, intimidasi dan penyerangan yang mengatasnamakan agama dan ideologi. Kasus tersebut kemudian bukan hanya menjadi salah satu indikasi bahwa Yogyakarta sudah tidak toleran lagi terhadap keberagaman namun juga indikasi bahwa gerakan fundamentalis – baik itu ideologi dan keagamaan – mulai menguat.  Kasus intoleransi yang sering terjadi dan mengalami pembiaran oleh aparat dan negara. Ironisnya beberapa tokoh pemerintah turut mendukung beberapa kejadian intoleran di Yogyakarta. Ditelusuri lebih jauh, hampir kebanyakan pelaku kasus intoleransi adalah orang-orang muda. Ini membuktikan bahwa budaya kekerasan sudah sedemikian dalamnya dimasukkan ke cara pandang orang muda.
Potensi gerakan aktivisme di Yogyakarta sangatlah kuat dan besar, begitu pula dengan potensi budaya yang sangat beragam yang masih dijaga hingga kini. Selain kuat dalam hal gerakan aktivisme dan budaya, Yogja juga di kenal sebagai gudangnya akademisi yang kemudian menjadi tokoh-tokoh besar di Indonesia. Banyaknya potensi tersebut merupakan aset yang positif dan tak ternilai dalam gerakan perdamaian.
Yogyakarta sudah lama menjadi kota yang toleran. Ia sudah menjadi rumah bagi jutaan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sejak pasca kemerdekaan. Akan tetapi, fakta ini membutuhkan penguatan dan menemukan momentumnya pada tahun 2012 dengan deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance di Monumen Serangan Umum 11 Maret di Jalan Malioboro. Deklarasi ini bukan tanpa maksud. Ia bertujuan untuk meneguhkan kembali Yogyakarta yang sudah menjadi rumah bersama bagi orang-orang beragam agama, etnis, ras, budaya, dan juga sosial status. Berbagai bentuk kekerasan atas kelompok lain yang terjadi di Yogyakarta harus segera dihentikan dengan keistimewaan Yogyakarta.

Deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance sudah berumur 4 tahun. Bagaimana kondisi keberagamaan agamanya? Laporan The Wahid Institute diatas sudah memberi penilaian bahwa kondisinya tidak membaik, namun malah memburuk. Kita boleh setuju ataupun tidak atas kesimpulan diatas, akan tetapi fakta menyebutkan bahwa terjadi kekerasan disana dan melibatkan kelompok agama. Persoalan bahwa ia bisa kita labeli dengan kekerasan atas nama agama atau tidak adalah persoalan lain.***
Situasi gerakan fundanmentaliis menjadi bahasan karena sebagai salah satu isu program yang diambil oleh Solidaritas Perempuan dalam Rapat Nasional Dewan Komunitas, di Lampung tanggal 15-19 Januari 2017.***