Senin, 04 September 2017

BUNUH DIRI MASSAL PERGURUAN TINGGI

MENUJU PENDIDIKAN ASEMBLING

AKHIR-akhir ini di media sosial sedang hangat didiskusikan dan diperdebatkan perihak Universitas disruption yang di picu artikel Jim Clifton, "Univesitas Disruption is Coming". Isinya secara garis besar mempertanyakan dan mengkhawatirkan peran masa depan pendidikan tinggi dalam menyuplai tenaga kera industri di dunia.

Pemicu dituliskannya artikel tersebut adalah iklan Google dan Ernst & Young yang akan menggaji siapun yang bisa bekerja tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari perguruan tinggi (PT). Iklan dari Google dan Ernst & Young tersebut seperti halilintar menyambar di siang bolong. Ini sangat mengejutkan dan menyambar kemapanan yang telah dinikmati oleh PT di seluruh dunia dalam perannya sebagai penyuplai tenaga ahli, hasil riset, dan pemikiran-pemikiran yang dibutuhkan dunia industri.

Namun, peran penting PT. saat ini seakan telah dinihilkan oleh Google dan Ernst & Young, yang sebentar lagi barangkali diikuti oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang lainnya.Lonceng kemtaian PT seakan telah dibunyikan oleh kedua perusahaan raksasa tersebut, menyusul artikel yang ditulis oleh Terry Eagleon, berjudul "The Slow Death of the University" (2015).

Artikel Eagleton memberikan gambaran bahwa PT sedang melakukan bunuh diri massal melalui pengabaian pada tugas utamanya, yakni "pendidikan", karena telah bergeser lebih mengutamakan "riset dan publikasi". Lebih menyedihkan lagi, tradisi hubungan dosen dan mahasiswa yang seharusnya berbasis "guru dan siswa" telah bergeser menjadi "manager dan pelanggan".

Khusus di Indonesia, fenomena bunuh diri massal ini ditambahkan oleh keluhan bahwa para dosen saat ini lebih mementingkan meng-update LKD (Laporan Kinerja Dosen) karena berkaitan dengan tunjangan kinerja dosen daripada meng-update materi kuliah yang diampunya.

Pertanyaan menarik untuk diajukan adalah apakah eksistensi pendidikan tinggi akan segera berakhir ataukah tetap akan ada tetapi arahnya akan berbelok tajam tidak mengikuti garis linier lagi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kiranya :

1. Melihat lagi ke belakang sejarah kaitan antara pengetahuan, sains, dan teknologi.
2. Tahap-tahap perkembanganya
3. Esensi dan sifat dasar kaitan ketiganya dalam perspektif kekinian
4. Pengaruhnya pada arah pendidikan tinggi kita di masa depan.

Sejak kelahirannya pada abad ke 17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan sains, dan teknologi. Bahwa pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains yang untuk selanjutnya sains yang akan berperan ibu kandung dari kelahiran teknologi. Pengetahuan tentang benda-benda dilangit yang diasarkan pada pengamatan yang berualang, pada akhirnya telah melahirkan prinsip serta dalil-dalil di bidang sains. Kemudian di susul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipoesis yang di bangun oleh abstraksi sains.

Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber  berpikir atau guru bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak dikemudian ahri, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasikan dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkan melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit.

Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, ang usianya sampai saat ini baru sekitar 200 tahun, tetapi pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa.(Bersambung.....)