KONSEP KEKURANGAN PANGAN ITU, BAGI PEREMPUAN TIDAK ADA
AKSI bersama Aliansi Masyarakat mendukung Pangan Lokal dengan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta, pada tanggal 16 Oktober 2015 di Tugu Pall Putih, dengan mengusung tema "Kami Tidak Takut Lapar, Lumbung Kami Penuh Makanan", telah berlalu, namun gaungnya masih terasa dimana-mana, baik itu desa -desa maupun di kota, masih banyak yang memperingatinya dengan berbagai macam kegiatan.
Modernisasi teknologi pertanian mempunyai peran yang sangat besar atas tergesernya peran tenaga kerja perempuan di sektor pertanian. Walaupun secara keseluruhan modernisasi pertanian berdampakpada melemahnya lembaga ketenagakerjaan non upahan yang berbasiskan pada kegotongroyongan, sehingga di desa Jawa dikenal adanya sambatan dan bawon. Sambatan sendiri dalam lingkungan sosial budaya desa Jawa sebenarnya merupakan kerja bersama yang tidak mendapatkan upah. Begitu pula dengan bawon yang lebih berarti pemberian ulih-ulih dari orang yang mempunyai pekerjaan di sawah/ladang. Bawon sendiri sebelumnya tidak dianggap sebagai upah, karena sifatnya yang saling bergantian. Namun perkembangan saat ini telah menempatkan sambatan dan bawon dalam tata kerja sosial baru yang tidak berarti hanya sekadar kerja sukarela saling membantu.
Masuknya mesin penggilingan padi (huller) misalnya telah menggeser peran perempuan yang biasanya melakukan ngerek. Belum lagi sekarang ada mesin penyosohan/penggilingan padi yang bisaberkeliling desa, sehingga pekerjaan nyelep, nyosoh, dan sebagainya telah berpindah dari perempuan ke teknologi. Dengan demikian, teknologi pertanian dapat dikatakan telah mengambil alih keberadaan tenaga kerja perempuan. Bagi perempuan kehilangan pekerjaan sambilan di lahan pertanian berarti kehilangan sebagian tambahan penghasilan mereka. Mereka harus berhitung ulang tentang belanja rumah tangganya.
Lebih jauh, kerukunan itu sendiri mampu menciptakan harmonisasi. Harmonisasi inilah yang secara konseptual mengantisipasi adanya ‘krisis’ dalam rumah tangga/individu di dalam masyarakat Jawa. Dengan demikian, krisis yang terjadi pada individu atau satu rumah tangga tertentu adalah gangguan atas tatanan harmoni yang dibayangkan sudah ada. Sehingga nilai rukun diekspresikan dengan jelas dalam ideal memberi bantuan timbal balik dan berbagi beban (gotong-royong) dan pengambilan keputusan dengan konsultasi yang timbal balik (musyawarah).
Tidak ada orang mati kelaparan, yang ada orang mati karena malu. Ya malu berusaha, ya malu meminta, ya malu kepada tetangga. Kenapa malu? Ya malu karena tidak pernah rukun. Kalau ada orang punya gawe (hajat) tidak nyumbang (membantu bisa dalam bentuk uang atau tenaga), ada orang layon (meninggal dunia) juga tidak datang, ada kerja bhakti juga tidak kelihatan. Kalau ada yang mati kelaparan ujungnya tetangganya juga yang malu. Malu karena dianggap tidak rukun,
tidak mau berbagi. Maka kalau hidup di desa harus rukun.
tidak mau berbagi. Maka kalau hidup di desa harus rukun.
Krisis pangan seharusnya tidak terjadi di dalam masyarakat yang memegang prinsip kerukunan. Dengan kerukunan, bercukupan pangan, saling berbagi akan menjadi solusi. Artinya juga tidak akan ada yang menimbun secara berlebih hasil produksi mereka. Tidak berlebihan inilah
di dalam masyarakat Jawa dikenal dengan prasaja, yang juga berarti sederhana. Konsep inipun masih sangat relatif, karena prasaja bukan berarti tidak berumah tembok atau tidak punya televisi. Prasaja lebih berarti hidup yang ‘apa adanya’. Kalau memang bisa membuat rumah tembok ya tidak menjadimasalah membuat rumah tembok, tapi kalau tidak mampu ya jangan dipaksakan. Sehingga prasaja tidak berarti kesamarataan secara konsumtif.
di dalam masyarakat Jawa dikenal dengan prasaja, yang juga berarti sederhana. Konsep inipun masih sangat relatif, karena prasaja bukan berarti tidak berumah tembok atau tidak punya televisi. Prasaja lebih berarti hidup yang ‘apa adanya’. Kalau memang bisa membuat rumah tembok ya tidak menjadimasalah membuat rumah tembok, tapi kalau tidak mampu ya jangan dipaksakan. Sehingga prasaja tidak berarti kesamarataan secara konsumtif.
Konsep kekurangan pangan, bagi perempuan itu tidak ada, karena baginya apapun nama dan
bentuk makanannya, yang penting mampu mengisi dan mengganjal perut. Begitu pula
untuk makan,makanan harus ada begitu waktu makan tiba. Diakuinya memang tidak selamanya
mereka makan nasi. Beras, jika memang tidak ada mereka ganti dengan nasi tiwul dari gaplek (ketela pohon) atau nasi jagung. Untuk sayur-sayuran, dapat memetik sayur yang berada di ladang.
bentuk makanannya, yang penting mampu mengisi dan mengganjal perut. Begitu pula
untuk makan,makanan harus ada begitu waktu makan tiba. Diakuinya memang tidak selamanya
mereka makan nasi. Beras, jika memang tidak ada mereka ganti dengan nasi tiwul dari gaplek (ketela pohon) atau nasi jagung. Untuk sayur-sayuran, dapat memetik sayur yang berada di ladang.
Kearifan lokal juga dapat ditemukan dari cara mengatasi ketiadaan minyak goreng. Mereka dapat membuat sendiri minyak goreng dari kelapa dengan cara memasak santan kelapa hingga berminyak. Minyak kelapa ini memang biasanya jauh lebih harum menyengat bila dibandingkan minyak goreng curah. Dengan membuat sendiri minyak goreng, mendapatkan keuntungan tambahanyaitu ampas dari santan yang menjadi minyak, yaitu blondo, yang dapat dijadikan
makanan kecil. Karena blondo ini rasanya sudah manis dan gurih.
makanan kecil. Karena blondo ini rasanya sudah manis dan gurih.
Masalah Keterkaitan perempuan terhadap tanah, air, udara dan hutan telah membuat perempuan harus berjuang keras merebut kembali jiwa-jiwa mereka yang telah terampas ekosistem hidupnya, akibat penetrasi kultur globalisasi yang telah memiskinkan perempuan.
Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan Allah, agar dengan bijaksana dapat merawat dan memelihara “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”. Dari bumilah sumber pangan bagi semuaorang dan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tersedia berlimpahlimpah. Diperlukan
pertobatan rohanipada diri kita sebagai bentuk pertobatan ekologis yang ditindaklanjuti
dengan pertobatan bersama (komunitas) hingga membawa perubahan pada penghormatan
dan pemeliharaan alam ciptaan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana. Aneka gerakan dan kepedulian yang telah dikembangkan melalui bentuk solidaritas dan belarasa,
kekuatan jejaring dengan komunitas lain serta Pemerintah, akan menjadi tindakan yang bermakna agar pencemaran lingkungan dikurangi dan pelestarian lingkungan hidup diperjuangkan. Kita yakin, melalui gerakan sederhana dan jejaring yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kearifan lokal akan semakin tumbuh dan berkembang. Saya berdoa bagi para petani yang dengan gigih menyediakan pangan bagi kita semua. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudari-saudara semua.*** PBK

