Minggu, 18 Oktober 2015

MAKNA HARI PANGAN SE- DUNIA

KONSEP KEKURANGAN PANGAN ITU, BAGI PEREMPUAN TIDAK ADA

AKSI bersama Aliansi Masyarakat mendukung Pangan Lokal dengan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta, pada tanggal 16 Oktober 2015 di Tugu Pall Putih, dengan mengusung tema "Kami Tidak Takut Lapar, Lumbung Kami Penuh Makanan", telah berlalu, namun gaungnya masih terasa dimana-mana, baik itu desa -desa maupun di kota, masih banyak yang memperingatinya dengan berbagai macam kegiatan.
Modernisasi teknologi pertanian mempunyai peran yang sangat besar atas tergesernya peran tenaga kerja perempuan di sektor pertanian. Walaupun secara keseluruhan modernisasi pertanian berdampakpada melemahnya lembaga ketenagakerjaan non upahan yang berbasiskan pada kegotongroyongan, sehingga di desa Jawa dikenal adanya sambatan dan bawon. Sambatan sendiri dalam lingkungan sosial budaya desa Jawa sebenarnya merupakan kerja bersama yang tidak mendapatkan upah. Begitu pula dengan bawon yang lebih berarti pemberian ulih-ulih dari orang yang mempunyai pekerjaan di sawah/ladang. Bawon sendiri sebelumnya tidak dianggap sebagai upah, karena sifatnya yang saling bergantian. Namun perkembangan saat ini telah menempatkan sambatan dan bawon dalam tata kerja sosial baru yang tidak berarti hanya sekadar kerja sukarela saling membantu.
Masuknya mesin penggilingan padi (huller) misalnya telah menggeser peran perempuan yang biasanya melakukan ngerek. Belum lagi sekarang ada mesin penyosohan/penggilingan padi yang bisaberkeliling desa, sehingga pekerjaan nyelep, nyosoh, dan sebagainya telah berpindah dari perempuan ke teknologi. Dengan demikian, teknologi pertanian dapat dikatakan telah mengambil alih keberadaan tenaga kerja perempuan. Bagi perempuan kehilangan pekerjaan sambilan di lahan pertanian berarti kehilangan sebagian tambahan penghasilan mereka. Mereka harus berhitung ulang tentang belanja rumah tangganya.
Lebih jauh, kerukunan itu sendiri mampu menciptakan harmonisasi. Harmonisasi inilah yang secara konseptual mengantisipasi adanya ‘krisis’ dalam rumah tangga/individu di dalam masyarakat Jawa. Dengan demikian, krisis yang terjadi pada individu atau satu rumah tangga tertentu adalah gangguan atas tatanan harmoni yang dibayangkan sudah ada. Sehingga nilai rukun diekspresikan dengan jelas dalam ideal memberi bantuan timbal balik dan berbagi beban (gotong-royong) dan pengambilan keputusan dengan konsultasi yang timbal balik (musyawarah).
Tidak ada orang mati kelaparan, yang ada orang mati karena malu. Ya malu berusaha, ya malu meminta, ya malu kepada tetangga. Kenapa malu? Ya malu karena tidak pernah rukun. Kalau ada orang punya gawe (hajat) tidak nyumbang (membantu bisa dalam bentuk uang atau tenaga), ada orang layon (meninggal dunia) juga tidak datang, ada kerja bhakti juga tidak kelihatan. Kalau ada yang mati kelaparan ujungnya tetangganya juga yang malu. Malu karena dianggap tidak rukun, 
tidak mau berbagi. Maka kalau hidup di desa harus rukun.
Krisis pangan seharusnya tidak terjadi di dalam masyarakat yang memegang prinsip kerukunan. Dengan  kerukunan, bercukupan pangan,  saling berbagi akan menjadi solusi. Artinya juga tidak akan ada yang menimbun secara berlebih hasil produksi mereka. Tidak berlebihan inilah 
di dalam masyarakat Jawa dikenal dengan prasaja, yang juga berarti sederhana. Konsep inipun masih sangat relatif, karena prasaja bukan berarti tidak berumah tembok atau tidak punya televisi. Prasaja lebih berarti hidup yang ‘apa adanya’. Kalau memang bisa membuat rumah tembok ya tidak menjadimasalah membuat rumah tembok, tapi kalau tidak mampu ya jangan dipaksakan. Sehingga prasaja tidak berarti kesamarataan secara konsumtif.
Konsep kekurangan pangan, bagi perempuan itu tidak ada, karena baginya apapun nama dan 
bentuk makanannya, yang penting mampu mengisi dan mengganjal perut. Begitu pula 
untuk makan,makanan harus ada begitu waktu makan tiba. Diakuinya memang tidak selamanya 
mereka makan nasi. Beras, jika memang tidak ada mereka ganti dengan nasi tiwul dari gaplek  (ketela pohon) atau nasi jagung. Untuk sayur-sayuran, dapat  memetik sayur  yang berada di ladang.
Kearifan lokal juga dapat ditemukan dari cara mengatasi ketiadaan minyak goreng. Mereka dapat membuat sendiri minyak goreng dari kelapa dengan cara memasak santan kelapa hingga berminyak. Minyak kelapa ini memang biasanya jauh lebih harum menyengat bila dibandingkan minyak goreng curah. Dengan  membuat sendiri minyak goreng,  mendapatkan keuntungan tambahanyaitu ampas dari santan yang menjadi minyak, yaitu blondo, yang dapat dijadikan 
makanan kecil. Karena blondo ini rasanya sudah manis dan gurih.

Masalah Keterkaitan perempuan terhadap tanah, air, udara dan hutan telah membuat perempuan harus berjuang keras merebut kembali jiwa-jiwa mereka yang telah terampas ekosistem hidupnya, akibat penetrasi kultur globalisasi yang telah memiskinkan perempuan.

Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan Allah, agar dengan bijaksana dapat merawat dan memelihara “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”. Dari bumilah sumber pangan bagi semuaorang dan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tersedia berlimpahlimpah. Diperlukan 
pertobatan rohanipada diri kita sebagai bentuk pertobatan ekologis yang ditindaklanjuti 
dengan pertobatan bersama (komunitas) hingga membawa perubahan pada penghormatan 
dan pemeliharaan alam ciptaan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana. Aneka gerakan dan kepedulian yang telah dikembangkan melalui bentuk solidaritas dan belarasa, 
kekuatan jejaring dengan komunitas lain serta Pemerintah, akan menjadi tindakan yang bermakna agar pencemaran lingkungan dikurangi dan pelestarian lingkungan hidup diperjuangkan. Kita yakin, melalui gerakan sederhana dan jejaring yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kearifan lokal akan semakin tumbuh dan berkembang. Saya berdoa bagi para petani yang dengan gigih menyediakan pangan bagi kita semua. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudari-saudara semua.*** PBK

Senin, 05 Oktober 2015

LUCUNYA NEGERIKU

Sopir-sopir di kota, berbasuh keringat berujung hutang
Tukang becak, berusaha bertahan di jalanan kota dan sesekali Pose bersama turis manca Negara. Hanya itu.
Kaum buruh, berburu target untuk sang tuan, meski upah tetap saja tak menjawab kebutuhan pokok keluarganya
Guru-guru ngaji mengeluh pilu, generasi kini tak lagi mengenal maaf dan malu
Tenaga honorer diselimuti keluh kesah, lantaran dapur tak mengepulkan asap lagi
Petani di desa, bercocok tanam tak balik modal dan
Anak-anak masih saja  percaya, jika penguasa berlaku jujur dan bijaksana

Gedung-gedung Wakil Rakyat memisahkan diri dari rumah kumuh rakyatnya
Di lapangan golf, sebagian elit buang-buang uang
Diskotik malam masih saja berteman baik dengan generasi yang hilang
Mal-mal hidup tergerus tanpa jiwa
Tubuh-tubuh berbalut fatamorgana
Perut-perut menabung ‘tai-tai’ kesombongan
Tak lagi mengenal empati dan kasih sayang
Jikapun  peduli, sudah diperhitungkan untung ruginya
Kota bertindak seenaknya, dan
Desa diam-diam mencontohnya 



Akhir-akhir ini dipertontonkan, pagelaran kekeliruan dalam bernegara.
Perihal kisruh di DPR RI, Kriminalisasi KPK, Makelar kasus dalam tubuh penegakan hukum,
Tragedi tiga buah kakao pada diri Minah (seorang perempuan tua), Luka lara Prita Mulyasari di depan hukum  (lantaran curhat perihal sakitnya via email tentang pelayanan yang tidak memuaskan oleh sebuah rumah sakit mentereng di Jakarta), dan hilangnya aktivis kemanusiaan. Belum lagi keamanan di negeri ini, susah dicari!

Bagaimana denga tokoh agama, sebagian di antara mereka,
saya tak percaya. Karena lupa dengan umatnya.
Bagaimana dengan Guru, sebagian di antara mereka, saya juga tidak percaya.
Pendidikan melahirkan generasi layaknya burung, bingung kembali ke kandangnya.
Bagaimana para politikus, sebagian di antara mereka, saya tak menaruh harap lagi.
Hobinya jual beli kepentingan.
Apalagi sebenatar lagi akan pesta PiIkada serentak di tahun 2015
Uuuuuh!