Minggu, 05 Maret 2017

Dialog Publik Perempuan dan Toleransi

 

Yogyakarta sudah lama menjadi kota yang toleran. Ia sudah menjadi rumah bagi jutaan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sejak pasca kemerdekaan. Akan tetapi, fakta ini membutuhkan penguatan dan menemukan momentumnya pada tahun 2012 dengan deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance di Monumen Serangan Umum 11 Maret di Jalan Malioboro. Deklarasi ini bukan tanpa maksud. Ia bertujuan untuk meneguhkan kembali Yogyakarta yang sudah menjadi rumah bersama bagi orang-orang beragam agama, etnis, ras, budaya, dan juga sosial status. Berbagai bentuk kekerasan atas kelompok lain yang terjadi di Yogyakarta harus segera dihentikan dengan keistimewaan Yogyakarta.
Deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance sudah berumur 4 tahun. Bagaimana kondisi keberagamaan agamanya? Laporan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta diatas sudah memberi penilaian bahwa kondisinya tidak membaik, namun malah memburuk. Kita boleh setuju ataupun tidak atas kesimpulan diatas, akan tetapi fakta menyebutkan bahwa terjadi kekerasan disana dan melibatkan kelompok agama. Persoalan bahwa ia bisa kita labeli dengan kekerasan atas nama agama atau tidak adalah persoalan lain.
 
Di Yogyakarta sendiri mulai bermunculan seperti pemaksaan pemakaian jilbab untuk perempuan dan pembubaran berbagai diskusi padahal Yogyakarta dikenal sebagai Zero Intolerance yang menyediakan ruang-ruang public bebas untuk berkumpul dan berdiskusi.  Secara nasional dampak kekerasan seperti domino. SP sendiri sekarang menjadi pelopor untuk mendorong isu keberagaman dengan membuat laporan pelanggaran HAM dan intoleransi. Perempuan dianggap tidak banyak menjadi korban secara fisik padahal perempuan rentan menjadi korban dari kekerasan berlapis, kata Donna Swita dari divisi Kedaulatan Perempuan Atas Seksualitas, SP Nasional yang memberi gambaran masalah Perempuan dan Toleransi dalam dialog Publik  yang diadakan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta, Jumat/3/2017, di hotel Ruba Graha Yogyakarta.
Pembicara akan memaparkan situasi terakhir dari masing-masing agama. Mulai dari agama Hindu, ibu Ni Luh Kasani dari Wanita Darma Indonesia. Kedua ibu Yudith Liem, pernah aktif di UKDW dan anggota SP di Makassar, Jakarta dan Yogyakarta juga coordinator local Pemuda Kristen Yogyakarta. Berikutnya Gus Irwan Marjuki, yang familiar dalam gerakan massa, pengasuh pondok pesantren di Melangi, penulis buku tentang Islam secara Toleran. Selanjutnya bapak Agung Supriyono, berkantor di Kepatihan sebagai Kesbangpol. Ada Ki Wahono dari UST.*** (Bonnie)