Dalam Forum Rapat Nasional Dewan Komunitas yang berlangsung selama 5 hari, banyak pembahasan dalam rapat tersebut. Salah satunya adalah membahas mengenai Kepemimpnan Feminis di Solidaritas Perempuan.
· Istilah FEMINIS perlu dipilahkan dengan
istilah PEREMPUAN. Kata Feminis disini tidak mewakili semua perempuan. Ada
perempuan yang belum bisa dikategorikan sebagai feminis karena belum menyadari
bahwa dirinya diperlakukan tidak adil secara sistematis dan universal. Mereka
dikategorikan sebagai perempuan yang masih bias gender. Ada juga perempuan yang
sudah sadar gender, tetapi karena alasan
tertentu tidak mau disebut feminis. Ada pula perempuan yang sudah
terbentuk oleh konstruksi budaya patriakhat sehingga pikiran, pandangan hidup,
pilihan sikap dan perilakunya serba maskulin, dan mereka tidak sadar. Di sisi
lain ada pula laki-laki yang mendapat pengaruh dominan sifat dan potensi
feminis, sehingga ia/mereka dapat dikategorikan berfaham feminism. Oleh karena
itu dalam membahas kepemimpinan feminis, persoalan ini penting untuk mendapat
perhatian khusus.
Feminis disini dimaksudkan untuk menyebut perempuan
dan laki-laki yang sudah sadar gender, mengakui bahwa posisi perempuan
sub-ordinat karena konstruksi sosial budaya, mengakui ketidak adilan terhadap
perempuan secara sistematis berbasis kekuasaan, mengakui bahwa kaum perempuan
merupakan salah satu kelompok marjinal dalam masyarakat yang diperlakukan tidak
adil, dan mereka mau berjuang menuju keadilan dan perdamaian demi nilai
kemanusiaan dan nilai kehidupan.
Pemimpin mempunyai fungsi utama
yaitu menggerakkan orang lain untuk bekerjasama mencapai tujuan
tertentu. Fungsi menggerakkan orang lain ini membutuhkan ilmu dan
seni.
· Perempuan feminis adalah perempuan yang
sudah sadar gender, sadar bahwa dirinya diperlakukan tidak adil secara
sistematis berbasis kekuasaan (berdasarkan pengalaman hidup kongkrit),
menyadari potensi perempuannya yang hilang oleh konstruksi sosial budaya patriakaht,
dan berusaha berjuang untuk keadilan gender serta meningkatkan potensi
perempuan dengan upaya menemukan jati dirinya sebagai perempuan.
Perempuan tidak sama dengan
laki-laki, secara biologis dan pengalaman pribadi. Pernyataan
ini penting dijadikan dasar pokok pikiran untuk membahas kepemimpinan feminis. Perbedaan
biologis membentuk perbedaan pribadi. Tetapi yang beda tidak boleh dan tidak
harus dibedakan. Permasalahan GENDER telah membedakan yang berbeda ini
sehingga terjadi diskriminasi. Budaya telah mendiskriminasikan perempuan
sebagai pemimpin. Sosial budaya membentuk perempuan bukan menjadi pemimpin.
Padahal kepemimpinan adalah bakat pribadi, dimana semua manusia mempunyai
potensi kepemimpinan. Walaupun kepemimpinan dapat dipelajari, tetapi bakat
pribadi sangat besar pengaruhnya. Kepemimpinan itu tidak seksis dan berawal dari
setiap pribadi serta bentukan lingkungan (sosial budaya).
Oleh karena perbedaan tersebut maka perlu
dibahas kepemimpinan feminis dari aspek biologis, sosiologis, psikologi sosial
dan spiritualiktas/religiusitas. Secara biologis perempuan dikaruniai oleh Sang
Pencipta bagian-bagian tubuh yang disiapkan untuk kehidupan baru. Rahim adalah
lingkungan hidup awal manusia setelah terjadi konsepsi (bersatunya sperma dan
sel telur). Embrio mulai hidup dalam naungan mikro kosmik, air ketuban dan
dinding rahim. Sembilan bulan semua manusia hidup dalam naungan mikro kosmik
dan kemudian lahir ke alam semesta, makro kosmik. Ketika ia lahir sosial budaya
lokal menyambutnya dan mempengaruhi dengan segala macam upacara tradisi. Budaya
lokal yang mempengaruhi (baca: membentuk) berbeda-beda sesuai tempat dan waktu. Pada saat ini
terjadilan “gendering” (proses konstruksi sosial budaya) untuk setiap pribadi
manusia. Maka secara sosiologis perempuan dibentuk oleh
sosial budaya sesuai dengan
“kehendak” budaya lokal. Bentukan sosiologis ini akan berpengaruh secara
psikologis. Bentukan sosio-psikologis
mempengaruhi potensi perempuan atas dasar biologis. Misalnya secara
biologis perempuan dengan unsur-unsur tubuh dikaruniai kekuatan. Haid yang
datang setiap bulan medorong perempuan makan makanan dan minum jamu untuk
mengobati dan memulihkan tubuhnya. Fungsi hamil, melahirkan dan menyusui, melatih
perempuan berupaya memenuhi kekuatan tubuhnya dan tubuh anak yang dilahirkan.
Secara alamiah, baik dari aspek biologis maupun sosiologis, kaum perempuan
menciptakan bahan dan cara memelihara ketahanan tubuhnya. Tetapi
pranata budaya yang diciptakan dari perspektif laki-laki sangat mempengaruhi adat istiadat
dan kebiasaan kaum perempuan. Perempuan menjadi merasa lemah dan harus
tergantung pada laki-laki. Pranata budaya patriakhat mengontrol tubuh perempuan
sehingga perempuan sudah tidak merdeka lagi menentukan dan mengontrol tubuhnya.
Hal ini terwujud dalam ajaran budaya yang menentukan anak dari garis keturunan
ayah. Anak yang lahir diluar perkawinan dinyatakan sebagai anak haram dan
didiskriminasikan. Setiap perempuan yang sudah usia subur harus menikah, kalau
tidak disebut perawan tua, perempuan yang tidak laku. Setiap isteri harus bisa
melahirkan, apabila tidak melahirkan dianggap mandl dan dinyatakan bukan
perempuan sempurna. Masih banyak lagi ajaran budaya maupun agama yang
menunjukkann kontrol ini. Bahkan negarapun mengontrol tubuh perempuan dengan cara mengharuskan
menggunakan alat kontrasepsi buatan untuk mencegah kelahiran; dan membatasi
melahirkan dua orang anak saja. Penggunaan alat kontrasepsi buatan ini tidak
selalu cocok bagi tubuh perempuan, tetapi dipaksakan. Semua ajaran budaya
tersebut dianggap kebenaran bahkan oleh kaum perempuan sendiri.
- Berpijak pada realitas sosial budaya, tidak berandai-andai,
- Berpandangan pluralis (berfaham
pluralisme), non primordial (tidak mengagungkan kelompoknya
sendiri/berpandangan sempit), non dikotomis (tidak berpandangan hitam-putih)
- Berorientasi pada proses dalam menyusun
perencanaan strategis. Perencanaan dimulai dari realitas, bukan dari angan-angan /berandai-andai. Membuat perencanaan
dari bawah=bottom up
- Membangun kekuatan bersama, bukan menunjukkan kekuasaannya
sendiri atau kelompoknya
- Pengambilan keputusan dibicarakan dan
diproses bersama, melibatkan kelompok yang akan menjalani keputusannya.
- Mengembangkan potensi kekuatan (power
within=kekuatan bersama) bukan
kekuasaan (power over=menguasai orang lain)
- Luwes dalam berelasi dengan orang lain, bersikap setara, tidak menunjukkan sikap hirarkhis (berposisi ordinat)
- Membangun budaya organisasi atas dasar
kepekaan terhadap situasi dan kondisi kelompok masyarakat yang dipimpin
- Menunjukkan gaya kepemimpinan yang tegas,
tanpa kekerasan, menghindari perilaku memaksakan kehendak.
- Bersikap terbuka untuk mendengarkan dan
menerima orang lain serta terbuka pada perubahan.
-
Ideologi
Gender patriarki menciptakan pranata kehidupan melalui sosial budaya dan politik atas dasar pandangan maskulin
saja. Pandangan sepihak ini dijadikan kebenaran dan menghapus keanekaragaman
pandangan, khususnya pandangan feminin. Keseragaman pandangan yang dijadikan
pedoman ini membentuk setiap pribadi kehilangan jati dirinya, karena setiap
pribadi dibentuk sesuai dengan “ketentuan” sosial budaya setempat. Setiap
manusia memang tidak dapat lepas dari bentukan lingkungan ini, tetapi ketika ia
tidak sadar, maka ia tidak akan mampu menemukan jati dirinya.
·
Sadar
gender membuat setiap pribadi sadar bahwa keadaan dirinya saat ini adalah akibat
dari satu sebab. Pandangan,
sikap, sifat dan perilaku atau adat istiadat seseorang adalah akibat dari
bentukan lingkungan. Melalui analisis personal setiap orang dapat menelusuri hidupnya, sejak
lahir sampai saat ini.Pengaruh apa saja yang membentuk pribadinya, kemudian menyadarinya. Dengan cara demikian paling tidak ia akan
melihat gambaran jati dirinya (who am I). Dari sini ia bisa memilah, pengaruh
yang merusak dan pengaruh yang membangun pribadinya. Kemudian secara dewasa ia
bisa mengambil keputusan, mana yang ditingkatkan mana yang dihilangkan.
- Pemimpin
dituntut untuk
mempnyai tiga (3) macam skill. Conceptual skill, human relation skill, dan
technical skill. Dari ketiga skill tersebut yang paling banyak
dibutuhkan adalah human relation skill, karena fungsi pemimpin adalah membawa
orang lain menuju tujuan bersama.
- Conceptual
skill adalah kemampuan
membuat konsep. Kemampuan ini membutuhkan latar belakang sebagai dasar, yaitu
visi (mimpi kedepan), misi (kesetiaan menjalankan “utusan/amanah” menuju mimpi), dan ideologi (nilai-nilai yang
diperjuangkan). Bagi orang beragama atau percaya pada Sang Khalik, ketiga dasar tadi sangat erat kaitannya dengan IMAN,
yaitu relasi antara dia dan Sang Khalik. Ideologi Feminis adalah memperjuangkan nilai-nilai
kemanusiaan dan kehidupan, sesuai dengan struktur tubuhnya sebagai awal dari
kehidupan manusia.
- Human
Relation skill merupakan kemampuan berelasi dengan orang
lain. Dalam tubuh perempuan terdapat rahim, tempat manusia mulai hidup. Bagi
perempuan sejak dari tubuh sudah disiapkan untuk berelasi dengan orang lain, laki-laki, perempuan atau
jenis seks lain. Jadi perempuan sudah disiapkan dan dilatih berelasi dengan
orang lain. Bagi ibu hamil, relasi ini dialami secara nyata. Relasi ini
dilanjutkan ketika bayinya lahir dan menyusu kepadanya. Relasi ini membentuk
kelekatan perempan dalam berkomunitas.Relasi yang dialami atas dasar bahasa tubuh, bahasa hati dan bahasa tutur
(ketika ibu mengajari anak bicara). Pengalaman perempuan ini menjadi modal
untuk meningkatkan kemampuan berelasi dengan orang lain. Komunikasi feminis menggunakan bahasa dari berbagai aspek, hati, pikiran, tubuh dan
pemilihan kata-kata. Pemilihan kata-kata ini adalah seni yang membutuhkan
perasaan dan kreativitas. Pemimpin Feminis akan berusaha memilih kata-kata
lembut, untuk menghindari bahasa kekerasan.
- Technical
skill merupakan kemampan dan ketrampilan menjalankan
aktivitas pemimpin seperti, pidato, memimpin rapat, mengambil keputusan,
menyusun perencanaan, membuat laporan, evaluasi, menyelesaikan konflik, dan
kegiatan teknis lainnya. Pemimpin feminis dalam menjalankan tugas ini juga
dipengaruhi dengan seni dan kreativitas feminis yang mampu mengkombinasikan
kemampuan laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini berarti menggunakan pikiran
(nalar, logika), menggunakan perasaan/intuisi, dan menggunakan bahasa tubuh,
hati dan tutur yang menyejukkan. Demikian pula ketika mengambil keputusan.
Keputusan menyangkut banyak pihak maka butuh memperhatikan kepentingan semua
pihak dan mempertimbangkan seara adil dan demokratis. Ini semua membutuhkan
seni dan ilmu. Inilah yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin feminis. ***