Selasa, 17 Januari 2017

GERAKAN FUNDAMENTASLIS DI YOGYAKARTA


Maraknya fundamentalisme di berbagai tempat juga telah memperpanjang deretan masalah yang dihadapi perempuan. Fundamentalisme yang mengandalkan sikap radikal dan intepretasi terhadap tafsiran ajaran agama yang sempit dan sepihak masih digunakan sebagai alat untuk mendominasi dan membatasi ruang gerak atau ekspresi politik perempuan serta mengontrol tubuh, fikiran, hasil kerja dan mobilitas perempuan. Atas nama tafsir agama, perempuan dipinggirkan bahkan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan otensitas nilai-nilai agama yang lebih harmoni.
Dari tahun ke tahun kekerasan dan kriminalitas bertambah. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini ada beberapa kasus mulai dari ancaman, intimidasi dan penyerangan yang mengatasnamakan agama dan ideologi. Kasus tersebut kemudian bukan hanya menjadi salah satu indikasi bahwa Yogyakarta sudah tidak toleran lagi terhadap keberagaman namun juga indikasi bahwa gerakan fundamentalis – baik itu ideologi dan keagamaan – mulai menguat.  Kasus intoleransi yang sering terjadi dan mengalami pembiaran oleh aparat dan negara. Ironisnya beberapa tokoh pemerintah turut mendukung beberapa kejadian intoleran di Yogyakarta. Ditelusuri lebih jauh, hampir kebanyakan pelaku kasus intoleransi adalah orang-orang muda. Ini membuktikan bahwa budaya kekerasan sudah sedemikian dalamnya dimasukkan ke cara pandang orang muda.
Potensi gerakan aktivisme di Yogyakarta sangatlah kuat dan besar, begitu pula dengan potensi budaya yang sangat beragam yang masih dijaga hingga kini. Selain kuat dalam hal gerakan aktivisme dan budaya, Yogja juga di kenal sebagai gudangnya akademisi yang kemudian menjadi tokoh-tokoh besar di Indonesia. Banyaknya potensi tersebut merupakan aset yang positif dan tak ternilai dalam gerakan perdamaian.
Yogyakarta sudah lama menjadi kota yang toleran. Ia sudah menjadi rumah bagi jutaan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sejak pasca kemerdekaan. Akan tetapi, fakta ini membutuhkan penguatan dan menemukan momentumnya pada tahun 2012 dengan deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance di Monumen Serangan Umum 11 Maret di Jalan Malioboro. Deklarasi ini bukan tanpa maksud. Ia bertujuan untuk meneguhkan kembali Yogyakarta yang sudah menjadi rumah bersama bagi orang-orang beragam agama, etnis, ras, budaya, dan juga sosial status. Berbagai bentuk kekerasan atas kelompok lain yang terjadi di Yogyakarta harus segera dihentikan dengan keistimewaan Yogyakarta.

Deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance sudah berumur 4 tahun. Bagaimana kondisi keberagamaan agamanya? Laporan The Wahid Institute diatas sudah memberi penilaian bahwa kondisinya tidak membaik, namun malah memburuk. Kita boleh setuju ataupun tidak atas kesimpulan diatas, akan tetapi fakta menyebutkan bahwa terjadi kekerasan disana dan melibatkan kelompok agama. Persoalan bahwa ia bisa kita labeli dengan kekerasan atas nama agama atau tidak adalah persoalan lain.***
Situasi gerakan fundanmentaliis menjadi bahasan karena sebagai salah satu isu program yang diambil oleh Solidaritas Perempuan dalam Rapat Nasional Dewan Komunitas, di Lampung tanggal 15-19 Januari 2017.***


KEBEBASAN


Apa arti kebebasan untukmu?

apa arti kebebasan untukmu ?
Kalau menurut saya, kebebasan adalah
hak manusia untuk mencapai kebahagiaan individu
tanpa merusak kebebasan individu lain.

Kebebasan merupakan tempat bergantungnya
ketinggian harga diri manusia. Setiap kebebasan
hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan.
Akal dan kecerdasan tidak ada artinya tanpa kebebasan.

Kebebasan juga dapat berarti kehendak bebas
manusia yang dengannya kita dapat memutuskan
suatu hal dari banyak pilihan-pilihan dan peristiwa
yang terjadi dalam hidup kita.

Kita memiliki kebebasan, untuk mencintai atau membenci...
Marah atau memaafkan...
Terpuruk atau bangkit...
Bahagia atau sebaliknya...

Kita bebas memilih atau mengontrol respon
dari setiap kejadian yang datang dalam kehidupan kita.
Itulah kebebasan.

TAPI... walaupun kita memiliki KEBEBASAN dalam
memilh respon untuk setiap kejadian, saya sarankan
kita tetap fokus memilih pada KEBEBASAN yang
bersifat POSITIF.

Rangkullah kehidupan.
Rengkuhlah cinta baru.
Penuhilah tawa, keriangan di setiap hari-hari
Bukalah hati untuk kemungkinan-kemungkinan yang baik:
rezeki, pekerjaan, orang-orang, lingkungan baru
yang membahagiakan.

Anda BEBAS untuk menjalani itu semua!
Dan menjadi bahagia.

Mulai sekarang, saya harap pikiran dan hati
TERBEBASKAN dari apapun yang sempat mengungkung selama ini.
Apapun hal yang membuat hidup tidak bahagia.

Tuhan tidak pernah mengutuk kita, namun kitalah yang
sering mengutuk kehidupan dan diri kita sendiri.

Kita memiliki berbagai macam kebebasan,
Pilihlah kebebasan-kebebasan yang baik.
Buatlah hal-hal baik, terbaik yang bisa kita lakukan setiap harinya.

Selalu pilih respon terbaik, pikiran & emosi baik, pada setiap kejadian.
Jalanilah setiap kebebasan dan kehidupan baru dengan
energi positif, hingga menjadikan hidup ini pernuh warna... :-)

Kepemimpinan Feminis Solidaritas Perempuan

Dalam Forum Rapat Nasional Dewan Komunitas yang berlangsung selama 5 hari, banyak pembahasan dalam rapat tersebut. Salah satunya adalah membahas mengenai Kepemimpnan Feminis di Solidaritas Perempuan.


·    Istilah FEMINIS perlu dipilahkan dengan istilah PEREMPUAN. Kata Feminis disini tidak mewakili semua perempuan. Ada perempuan yang belum bisa dikategorikan sebagai feminis karena belum menyadari bahwa dirinya diperlakukan tidak adil secara sistematis dan universal. Mereka dikategorikan sebagai perempuan yang masih bias gender. Ada juga perempuan yang sudah sadar gender, tetapi karena alasan  tertentu tidak mau disebut feminis. Ada pula perempuan yang sudah terbentuk oleh konstruksi budaya patriakhat sehingga pikiran, pandangan hidup, pilihan sikap dan perilakunya serba maskulin, dan mereka tidak sadar. Di sisi lain ada pula laki-laki yang mendapat pengaruh dominan sifat dan potensi feminis, sehingga ia/mereka dapat dikategorikan berfaham feminism. Oleh karena itu dalam membahas kepemimpinan feminis, persoalan ini penting untuk mendapat perhatian khusus.

   Feminis disini dimaksudkan untuk menyebut perempuan dan laki-laki yang sudah sadar gender, mengakui bahwa posisi perempuan sub-ordinat karena konstruksi sosial budaya, mengakui ketidak adilan terhadap perempuan secara sistematis berbasis kekuasaan, mengakui bahwa kaum perempuan merupakan salah satu kelompok marjinal dalam masyarakat yang diperlakukan tidak adil, dan mereka mau berjuang menuju keadilan dan perdamaian demi nilai kemanusiaan dan nilai kehidupan.
Pemimpin mempunyai fungsi utama yaitu menggerakkan orang lain untuk bekerjasama mencapai tujuan tertentu. Fungsi menggerakkan orang lain ini membutuhkan ilmu dan seni.

·      Perempuan feminis adalah perempuan yang sudah sadar gender, sadar bahwa dirinya diperlakukan tidak adil secara sistematis berbasis kekuasaan (berdasarkan pengalaman hidup kongkrit), menyadari potensi perempuannya yang hilang oleh konstruksi sosial budaya patriakaht, dan berusaha berjuang untuk keadilan gender serta meningkatkan potensi perempuan dengan upaya menemukan jati dirinya sebagai perempuan.


   Perempuan tidak sama dengan laki-laki, secara biologis dan pengalaman pribadi. Pernyataan ini penting dijadikan dasar pokok pikiran untuk membahas kepemimpinan feminis. Perbedaan biologis membentuk perbedaan pribadi. Tetapi yang beda tidak boleh dan tidak harus dibedakan. Permasalahan GENDER telah membedakan yang berbeda ini sehingga terjadi diskriminasi. Budaya telah mendiskriminasikan perempuan sebagai pemimpin. Sosial budaya membentuk perempuan bukan menjadi pemimpin. Padahal kepemimpinan adalah bakat pribadi, dimana semua manusia mempunyai potensi kepemimpinan. Walaupun kepemimpinan dapat dipelajari, tetapi bakat pribadi sangat besar pengaruhnya. Kepemimpinan itu tidak seksis dan berawal dari setiap pribadi serta bentukan lingkungan (sosial budaya).

    Oleh karena perbedaan tersebut maka perlu dibahas kepemimpinan feminis dari aspek biologis, sosiologis, psikologi sosial dan spiritualiktas/religiusitas. Secara biologis perempuan dikaruniai oleh Sang Pencipta bagian-bagian tubuh yang disiapkan untuk kehidupan baru. Rahim adalah lingkungan hidup awal manusia setelah terjadi konsepsi (bersatunya sperma dan sel telur). Embrio mulai hidup dalam naungan mikro kosmik, air ketuban dan dinding rahim. Sembilan bulan semua manusia hidup dalam naungan mikro kosmik dan kemudian lahir ke alam semesta, makro kosmik. Ketika ia lahir sosial budaya lokal menyambutnya dan mempengaruhi dengan segala macam upacara tradisi. Budaya lokal yang mempengaruhi (baca: membentuk) berbeda-beda sesuai tempat dan waktu. Pada saat ini terjadilan “gendering” (proses konstruksi sosial budaya) untuk setiap pribadi manusia. Maka secara sosiologis perempuan dibentuk oleh sosial budaya sesuai dengan “kehendak” budaya lokal. Bentukan sosiologis ini akan berpengaruh secara psikologis. Bentukan sosio-psikologis  mempengaruhi potensi perempuan atas dasar biologis. Misalnya secara biologis perempuan dengan unsur-unsur tubuh dikaruniai kekuatan. Haid yang datang setiap bulan medorong perempuan makan makanan dan minum jamu untuk mengobati dan memulihkan tubuhnya. Fungsi hamil, melahirkan dan menyusui, melatih perempuan berupaya memenuhi kekuatan tubuhnya dan tubuh anak yang dilahirkan. Secara alamiah, baik dari aspek biologis maupun sosiologis, kaum perempuan menciptakan bahan dan cara memelihara ketahanan tubuhnya. Tetapi  pranata budaya yang diciptakan dari perspektif  laki-laki sangat mempengaruhi adat istiadat dan kebiasaan kaum perempuan. Perempuan menjadi merasa lemah dan harus tergantung pada laki-laki. Pranata budaya patriakhat mengontrol tubuh perempuan sehingga perempuan sudah tidak merdeka lagi menentukan dan mengontrol tubuhnya. Hal ini terwujud dalam ajaran budaya yang menentukan anak dari garis keturunan ayah. Anak yang lahir diluar perkawinan dinyatakan sebagai anak haram dan didiskriminasikan. Setiap perempuan yang sudah usia subur harus menikah, kalau tidak disebut perawan tua, perempuan  yang tidak laku. Setiap isteri harus bisa melahirkan, apabila tidak melahirkan dianggap mandl dan dinyatakan bukan perempuan sempurna. Masih banyak lagi ajaran budaya maupun agama yang menunjukkann kontrol ini. Bahkan negarapun mengontrol  tubuh perempuan dengan cara mengharuskan menggunakan alat kontrasepsi buatan untuk mencegah kelahiran; dan membatasi melahirkan dua orang anak saja. Penggunaan alat kontrasepsi buatan ini tidak selalu cocok bagi tubuh perempuan, tetapi dipaksakan. Semua ajaran budaya tersebut dianggap kebenaran bahkan oleh kaum perempuan sendiri.
  • Berpijak pada realitas sosial budaya, tidak berandai-andai,
  • Berpandangan pluralis (berfaham pluralisme), non primordial (tidak mengagungkan   kelompoknya sendiri/berpandangan sempit), non dikotomis (tidak berpandangan hitam-putih) 
  • Berorientasi pada proses dalam menyusun perencanaan strategis. Perencanaan dimulai dari realitas, bukan dari angan-angan /berandai-andai. Membuat perencanaan dari bawah=bottom up
  • Membangun kekuatan bersama, bukan menunjukkan kekuasaannya sendiri atau kelompoknya
  • Pengambilan keputusan dibicarakan dan diproses bersama, melibatkan kelompok yang akan menjalani keputusannya.
  • Mengembangkan potensi kekuatan (power within=kekuatan bersama) bukan kekuasaan (power over=menguasai orang lain)
  • Luwes dalam berelasi dengan orang lain, bersikap setara, tidak menunjukkan sikap hirarkhis (berposisi ordinat)
  • Membangun budaya organisasi atas dasar kepekaan terhadap situasi dan kondisi kelompok masyarakat yang dipimpin
  • Menunjukkan gaya kepemimpinan yang tegas, tanpa kekerasan, menghindari perilaku memaksakan kehendak.
  • Bersikap terbuka untuk mendengarkan dan menerima orang lain serta terbuka pada perubahan.
  •           Ideologi Gender patriarki menciptakan pranata kehidupan melalui sosial budaya dan politik atas dasar pandangan maskulin saja. Pandangan sepihak ini dijadikan kebenaran dan menghapus keanekaragaman pandangan, khususnya pandangan feminin. Keseragaman pandangan yang dijadikan pedoman ini membentuk setiap pribadi kehilangan jati dirinya, karena setiap pribadi dibentuk sesuai dengan “ketentuan” sosial budaya setempat. Setiap manusia memang tidak dapat lepas dari bentukan lingkungan ini, tetapi ketika ia tidak sadar, maka ia tidak akan mampu menemukan jati dirinya.
    ·        Sadar gender membuat setiap pribadi sadar bahwa keadaan dirinya saat ini adalah akibat  dari satu sebab. Pandangan, sikap, sifat dan perilaku atau adat istiadat seseorang adalah akibat dari bentukan lingkungan. Melalui analisis personal setiap orang dapat menelusuri hidupnya, sejak lahir sampai saat ini.Pengaruh apa saja yang membentuk pribadinya, kemudian menyadarinya.  Dengan cara demikian paling tidak ia akan melihat gambaran jati dirinya (who am I). Dari sini ia bisa memilah, pengaruh yang merusak dan pengaruh yang membangun pribadinya. Kemudian secara dewasa ia bisa mengambil keputusan, mana yang ditingkatkan mana yang dihilangkan.
    • Pemimpin dituntut untuk mempnyai tiga (3) macam skill. Conceptual skill, human relation skill, dan technical skill. Dari ketiga skill tersebut yang paling banyak dibutuhkan adalah human relation skill, karena fungsi pemimpin adalah membawa orang lain menuju tujuan bersama.
    • Conceptual skill adalah kemampuan membuat konsep. Kemampuan ini membutuhkan latar belakang sebagai dasar, yaitu visi (mimpi kedepan), misi (kesetiaan menjalankan “utusan/amanah” menuju mimpi), dan ideologi (nilai-nilai yang diperjuangkan). Bagi orang beragama atau percaya pada Sang Khalik, ketiga dasar tadi sangat erat kaitannya dengan IMAN, yaitu relasi antara dia dan Sang Khalik. Ideologi Feminis adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan, sesuai dengan struktur tubuhnya sebagai awal dari kehidupan manusia. 
    • Human Relation skill  merupakan kemampuan berelasi dengan orang lain. Dalam tubuh perempuan terdapat rahim, tempat manusia mulai hidup. Bagi perempuan sejak dari tubuh sudah disiapkan untuk berelasi dengan orang lain, laki-laki, perempuan atau jenis seks lain. Jadi perempuan sudah disiapkan dan dilatih berelasi dengan orang lain. Bagi ibu hamil, relasi ini dialami secara nyata. Relasi ini dilanjutkan ketika bayinya lahir dan menyusu kepadanya. Relasi ini membentuk kelekatan perempan dalam berkomunitas.Relasi yang dialami atas dasar bahasa tubuh, bahasa hati dan bahasa tutur (ketika ibu mengajari anak bicara). Pengalaman perempuan ini menjadi modal untuk meningkatkan kemampuan berelasi dengan orang lain. Komunikasi feminis menggunakan bahasa dari berbagai aspek, hati, pikiran, tubuh dan pemilihan kata-kata. Pemilihan kata-kata ini adalah seni yang membutuhkan perasaan dan kreativitas. Pemimpin Feminis akan berusaha memilih kata-kata lembut, untuk menghindari bahasa kekerasan.
    • Technical skill  merupakan kemampan dan ketrampilan menjalankan aktivitas pemimpin seperti, pidato, memimpin rapat, mengambil keputusan, menyusun perencanaan, membuat laporan, evaluasi, menyelesaikan konflik, dan kegiatan teknis lainnya. Pemimpin feminis dalam menjalankan tugas ini juga dipengaruhi dengan seni dan kreativitas feminis yang mampu mengkombinasikan kemampuan laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini berarti menggunakan pikiran (nalar, logika), menggunakan perasaan/intuisi, dan menggunakan bahasa tubuh, hati dan tutur yang menyejukkan. Demikian pula ketika mengambil keputusan. Keputusan menyangkut banyak pihak maka butuh memperhatikan kepentingan semua pihak dan mempertimbangkan seara adil dan demokratis. Ini semua membutuhkan seni dan ilmu. Inilah yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin feminis. ***