Senin, 29 Agustus 2016

CERMIN DI HARI KELAHIRAN BONNIE?



"Tempat untuk berbahagia itu ada di
sini. Waktu untuk berbahagia itu kini.
Cara untuk berbahagia ialah dengan
membuat orang lain berbahagia"
                      -- Robert G. Ingersoll

Bonnie, apakah saat ini merasa bahagia?
Di mana letak kebahagiaan Bonnie
sesungguhnya? Apakah pada moleknya
tubuh? ..Jelitanya rupa? Tumpukan
harta?

....atau barangkali punya mobil mewah &
tingginya jabatan?

Jika itu semua sudah Bonnie dapatkan,
apakah Bonnie bisa memastikan bahwa
Bonnie *akan* bahagia?

Hari ini DIHARI KELAHIRAN  Bonnie untuk
melihat KEMBALI, kalau limpahan harta tidak
selalu mengantarkan pada kebahagiaan

Dan ini kisah nyata...

Ada delapan orang miliuner yang memiliki
nasib kurang menyenangkan di akhir
hidupnya. Tahun 1923, para miliuner
berkumpul di Hotel Edge Water Beach
di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu,
mereka adalah kumpulan orang-orang yang
sangat sukses di zamannya.

Namun, tengoklah nasib tragis mereka 25
tahun sesudahnya! Saya akan menyebutnya
satu persatu :
=> Charles Schwab, CEO Bethlehem Steel,
      perusahaan besi baja ternama waktu itu.
      Dia mengalami kebangkrutan total,
      hingga harus berhutang untuk membiayai
      5 tahun hidupnya sebelum meninggal.
=> Richard Whitney, President New York
      Stock Exchange. Pria ini harus
      menghabiskan sisa hidupnya dipenjara
      Sing Sing.
=> Jesse Livermore (raja saham "The
      Great Bear" di Wall Street), Ivar
      Krueger (CEO perusahaan hak cipta),
      Leon Fraser (Chairman of Bank of
      International Settlement), ketiganya
      memilih mati bunuh diri.
=> Howard Hupson, CEO perusahaan gas
      terbesar di Amerika Utara. Hupson
      sakit jiwa dan meninggal di rumah
      sakit jiwa.
=> Arthur Cutton, pemilik pabrik tepung
      terbesar di dunia, meninggal di
      negeri orang lain.
=> Albert Fall, anggota kabinet
      presiden Amerika Serikat, meninggal
      di rumahnya ketika baru saja keluar
      dari penjara.

Kisah di atas merupakan bukti, bahwa                                                   
kekayaan yang melimpah bukan jaminan                                                  
akhir kehidupan yang bahagia!

 Kebahagiaan memang menjadi faktor yang               
 begitu didambakan bagi semua orang.

Hampir segala tujuan muaranya ada pada
kebahagiaan. Kebanyakan orang baru bisa
merasakan *hidup* jika sudah menemukan
kebahagiaan.

Pertanyaannya, di mana kita bisa
mencari kebahagiaan?

Apakah di pusat pertokoan? Salon
kecantikan yang mahal? Restoran mewah?
Di Hawaii? di Paris? atau di mana?

Sesungguhnya, kebahagiaan itu tidak perlu
dicari kemana-mana... karena ia ada
di hati setiap manusia.
Carilah kebahagiaan dalam hatimu!
Telusuri 'rasa' itu dalam kalbumu!
Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana...


Hari ini saya akan bercermin pada kehidupan nyata
bagaimana kita sesungguhnya bisa
mendapatkan kebahagiaan*setiap hari*.                                              
Berikut adalah cerminan yang bisa Bonnie lakukan:
                                                                                                                                                                       
1. Mulailah Berbagi!
    Ciptakan suasana bahagia dengan cara
    berbagi dengan orang lain. Dengan cara
    berbagi akan menjadikan hidup kita
    terasa lebih berarti.
2. Bebaskan hati dari rasa benci,
    bebaskan pikiran dari segala
    kekhawatiran.
    Menyimpan rasa benci, marah atau dengki
    hanya akan membuat hati merasa tidak
    nyaman dan tersiksa.
3. Murahlah dalam memaafkan!
    Jika ada orang yang menyakiti, jangan
    balik memaki-maki. Mendingan berteriak
    "Hey! Kamu sudah saya maafkan!!".

    Dengan memiliki sikap demikian, hati
    kita akan menjadi lebih tenang, dan
    amarah kita bisa hilang. Tidak percaya?
    Coba saja! Saya sering melakukannya. :-)
4. Lakukan sesuatu yang bermakna.
    Hidup di dunia ini hanya sementara.
    Lebih baik Bonnie gunakan setiap waktu
    dan kesempatan yang ada untuk melakukan
    hal-hal yang bermakna, untuk diri
    sendiri, keluarga, dan orang lain.

    Dengan cara seperti ini maka
    kebahagiaan Bonnie akan bertambah dan
    terus bertambah.
5. Dan yang terakhir, Bonnie jangan
    terlalu banyak berharap pada orang
    lain
, nanti Bonnie akan kecewa!

Ingat, kebahagiaan merupakan tanggung
jawab masing-masing, bukan tanggung
jawab teman, keluarga, kekasih, atau
orang lain.

Lebih baik kita perbanyak harap hanya
kepada Yang Maha Kasih dan Kaya.

Karena Dia-lah yang menciptakan kita,
dan Dia-lah yang menciptakan segala
'rasa', termasuk rasa bahagia yang
selalu Bonnie inginkan. ^_^

SELAMAT BERBAHAGIA !!!
SELASA, 30 AGUSTUS 2016

Sabtu, 27 Agustus 2016

DAMPAK GLOBALISASI MEMBUAT PREDIKAT YOGYAKARTA SEMAKIN LUNTUR.

BUDAYA GLOBAL  yang semakin merajai pola konsumtif kini telah merambah seantero dunia. Bahkan Indonesia juga tidak ketinggalan dalam masalah global konsumtif ini. Yogyakarta adalah  salah satu kota yang tak luput dari pola-pola budaya global konsumtif, seperti fast food, laundry, kendaraan bermotor, nongkrong di cafee-cafee telah mengubah wajah Yogakarta semakin gemerlapan. Padahal kota Yogyakarta memiliki trandmark sebagai kota budaya, kota pariwisata, kota pendidikan dan kota gudeg, serta beberapa cap/label  dari banyak prestasi yang telah di raih oleh kota Yogyakarta. Namun, apakah kota Yogyakarta masih seperti yang dulu???
Pemenuhan konsumrif yang diwujudkan dalam cinta kasih terhadap nilai-nilai material menjadikan salah satu nilai glonal saat ini. Nilai konsumtif bukanlah  nilai tunggal. Demokratisasi, femenisme, atau humanisme pun, merupakan nilai-nilai global.  Namun karena di topang oleh ketamakan  dua nak kesayangan kapitalis saat ini, yaitu para birokrat dan pengusaha membuat nilai konsumstif tumbuh dengan pesatnya.
Fenomena ini sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Pengutamaan nilai konsumsi materi mengancam nilai yang lebih utama, seperti humansme dan spiritualisme. Karena nilai global menjadi tolok ukur globalisasi, maka ketika salah satu nilai absen,  cap ketertinggalan akan melekat  pada suatu wilayah. Demikian pula dengan simbol-simbl kedigdayaan konsumsi materi, martabat pejabat turut dipertaruhkan.
Mungkin inilah yang terjadi di Yogyakarta. Budaya konsumtif  global yang pada hari-hari lalu absen dari ranah Yogya telah menimbulkan ketidak-percayaan diri para birojrat dan pengusaha.  Maka tidaklah mengheran  jikakini mereka memupuk budaya ini lewat kebijakan yang memihak budaya konsumtif. Budaya ini kian menohok kesadaran masyarakat dan menguji tingkat kepercayaan diri para birokrat Yogyakarta. Karena perkembangan budaya konsumtif  tidak lepas dari peran pemerintah. Keraguan akan  alibi pemberdayaan, peningkatan kesejahteraan, serta pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat muncul ketika bentuk yang dikembangkan pemerintah berbeda dengan pakem trade mark yang dimiliki Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya.
Akankah pola pembangunan fisik, seperti pembangunagn Mal, Perhotelan, pelebaran jalan, dan pembangunan kampus yang meniru-niru kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, juga mengikuti kegagalan serta kesemrawutan yang dihadapi kota tersebut? Jelas bahwa modernisasi fisik yang sukses telah dipertontonkan oleh kota-kota metropolis di Indonesia. Namun, kegagalan fisik yang modern ini hampir bisa dipastikan selalu berhadapan dengan kesenjangan sosial dan diskriminasi. Siapa yang bisa menjamin bahwa keberadaan Mal dan Hotel yang mewah tidak akan menjadi perekat bagi pengunjung  dan bagi pedagang kaki lima, untuk kemudian menghadirkan pengemis, preman, pencopet, dan teman-temannya.
Globalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap masyarakat. Globalisasi juga membawa dampak yang anti rakyat bagi Yogyakarta.  Karena Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dan identik dengan kota budaya, pariwisata dan pendidikan. Hal ini telah dikenal oleh domestik dan manca negara. Bahkan pihak pemerintah pusat pun memberikan embel-embel daerah Istimewa bagi Yogyakarta. karena beragam trade yang ada. Namun, apakah image kota Yogyakarta masih akan bertahan seiring dengan pesatnya globalisasi? Sampai hari ini pun banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah tidak berpihak pada rakyat dan malahan membuat image Yogyakarta semakin luntur.***(BK)



                                                 Budayakan belanja ke pasar Tradisional


                                                                    Beef Steak Ketela