Senin, 07 September 2015

TUHAN CINTA FEMINIS


Banyak orang salah mengartikan tentang kata feminisme. 
Bahkan kata feminisme sangat menakutkan bagi orang awam yang baru pertama kali mendengarnya. 
Dan konon, tidak sedikit orang yang terjangkit penyakit feministphobia” 
lantaran terlalu takut dengan kata feminis.Apa yang ditakutkan?
Tuhan saja memilih mencintai feminisme, kenapa kita yang notabene’ sebagai ciptaannya harustakut dengan feminisme. Ironis sekali! Seharusnya yang lebih ditakuti itu Tuhan sebagai 
pengatur jalan hidup kita, bukan feminisnya.

Seorang Feminisme bukanlah orang yang menakutkan. 
Feminisme adalah sebuah ideologi, bukan wacana. 
Dan feminisme mempunyai arti perlawanan, anti kekerasan, 
dan bebas dari penindasan, dominasi, hegemoni, serta ketidakadilan. 
Jadi, spesifik (kekhasan) feminisme adalah melawan penindasan. 
Tuhan saja tidak pernah menindas mahklukNya, bahkan Tuhan sangat mencintai mahklukNya, 
termasuk mahkluk feminisme.  Kenapa kita sebagai mahklukNya melakukan penindasan 
pada sesamanya?

Tuhan mencintai feminisme, dan membenci penindasan. 
Karena seorang feminis adalah bisa laki-laki atau perempuan yang memiliki kesadaran akan 
penindasan dan dominasi tehadap perempuan serta mengambil tindakan sadar 
untuk mengubah keadaan. 
Tuhan akan membuka jalan bagi umatNya yang mau berusaha untuk memperbaiki hidupnya. 
Oleh karena itu, seorang feminisme berusaha  melakukan perubahan yang bertujuan  tidak hanya 
menuntut dan berjuang demi persamaan bagi perempuan, akan tetapi demi suatu masyarakat yang 
adil, setara bagi perempuan maupun bagi laki-laki. 

Feminisme tidak sama dengan seksisme. Karena seksisme merupakan pendiskriminasian
terhadap individu berdasarkan jenis kelaminnya, laki-laki dan perempuan. Dan kenyataannya seksime adalah hubungan sosial dimana laki-laki merendahkan perempuan, yang harus dihapuskan dari budaya patriarkhi. 
Feminis juga tidak samadengan lesbian, 
tidak sama dengan pro seks bebas,  
tidak sama dengan tidak nikah, 
tidak sama dengan feminin, 
dan tidak sama dengan atheis.

Perempuan memiliki keunikan dan kondisi yang berbeda, sesuai dengan waktu, 
dimana perempuan itu berada, hadir, hidup, dan mati.
Setiap perempuan pasti mempunyai pengalaman mengenai ketubuhan yang tidak sama. 
Jika menstruasi ada yang biasa biasa saja, tetapi ada juga yang merasa sangat sakit sekali. 
Yang sama-sama sakit pun berdeda-beda. 
Dan perbedaan itulah suatu keindahan, bukan suatu ancaman. Feminisme menghargai 
pengalaman itu yang akan menjadi nilai tambah dalam membangun persaudarian (sisterhood).

Perempuan berhak memilih jalan hidupnya. 
Dan perempuan juga berhak merumuskan tentang dirinya sendiri, . 
Jangan sampai menjadi korban para kapitalis yang merumuskan 
bahwa seorang perempuan itu harus langsing, berkulit putih, berambut panjang dan lain sebagainya. 
Itu warisan budaya patriarkhi yang harus dihapuskan.  
Dan para feminisme berhak  untuk meyakini bahwa seorang perempuan bebas untuk 
merumuskan dirinya sendiri. 

Feminisme adalah orang yang melihat, merasakan, dan sadar atas ketidakadilan serta penindasan 
yang menimpa perempuan, kemudian menganalisis, lalu mengambil tindakan untuk mengubahnya.
Dan pergulatan seorang feminis tidak lepas dari pengalaman feminis itu sendiri. Menjadi seorang 
feminis tidak hanya berhenti pada pertanyaan dan gugatan, melainkan melakukan aksi untuk 
mengubah kondisi yang tidak adil menjadi lebih adil serta setara.

Haruskah seorang feminis menguasai dan pandai membicarakan teori-teori tentang feminisme? Tidak perlu! Untuk menjadi seorang feminis tidak harus 
kuliah dan meraih gelar S2. 
Seorang feminis berbeda dengan seorang feminologi, 
yang hanya menguasai dan memandang feminisme sebagai wacana saja, tanpa ada tindakan 
dan aksi nyata dalam dirinya. 
Feminolog pintar berbicara tentang feminisme di seminar-seminar, 
menulis artikel atau buku tentang feminisme, namun bersikap netral pada penindasan empirik 
di depan mata atau bahkan yang dialaminya sendiri.

Haruskah seorang feminis mengikrarkan diri sebagai feminisme? Tidak perlu! 
Tanpa adanya kesadaran, tidak ada keharusan untuk mengenal dan mengenakan predikat feminis’ 
pada diri kita. Tetapi, alangkah lebih baiknya bila kita mengenalnya. Sebab, agar kita 
tidak perlu phobia lagi menyebut diri sebagai seorang feminis.

Sebagai seorang feminis, harus memegang teguh prinsip dan nilai-nilai feminisme.tubuh, pikiran, 
perasaan, dan tindakannya harus memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kemerdekaan untuk 
memilih dan memutuskan hidup sebagai manusia yang utuh serta merdeka. Dan menjadi seorang 
feminis adalah membutuhkan waktu untuk berproses, 
a process of life time,  a life time process. 

Berakhir sudah dalam bergelisah dan berproses untuk menjadi seorang feminis. 
Dan itu merupakan keputusan politik yang terbaik, diambil atas dasar kesadaran penuh sepanjang 
hayat seseorang. Feminisme sebagai sebuah kesadaran dan perubahan.
Karenanya, Tuhan cinta feminisme. Sungguh bahagia.!!!


Salam Solidaritas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar