Senin, 05 Oktober 2015

LUCUNYA NEGERIKU

Sopir-sopir di kota, berbasuh keringat berujung hutang
Tukang becak, berusaha bertahan di jalanan kota dan sesekali Pose bersama turis manca Negara. Hanya itu.
Kaum buruh, berburu target untuk sang tuan, meski upah tetap saja tak menjawab kebutuhan pokok keluarganya
Guru-guru ngaji mengeluh pilu, generasi kini tak lagi mengenal maaf dan malu
Tenaga honorer diselimuti keluh kesah, lantaran dapur tak mengepulkan asap lagi
Petani di desa, bercocok tanam tak balik modal dan
Anak-anak masih saja  percaya, jika penguasa berlaku jujur dan bijaksana

Gedung-gedung Wakil Rakyat memisahkan diri dari rumah kumuh rakyatnya
Di lapangan golf, sebagian elit buang-buang uang
Diskotik malam masih saja berteman baik dengan generasi yang hilang
Mal-mal hidup tergerus tanpa jiwa
Tubuh-tubuh berbalut fatamorgana
Perut-perut menabung ‘tai-tai’ kesombongan
Tak lagi mengenal empati dan kasih sayang
Jikapun  peduli, sudah diperhitungkan untung ruginya
Kota bertindak seenaknya, dan
Desa diam-diam mencontohnya 



Akhir-akhir ini dipertontonkan, pagelaran kekeliruan dalam bernegara.
Perihal kisruh di DPR RI, Kriminalisasi KPK, Makelar kasus dalam tubuh penegakan hukum,
Tragedi tiga buah kakao pada diri Minah (seorang perempuan tua), Luka lara Prita Mulyasari di depan hukum  (lantaran curhat perihal sakitnya via email tentang pelayanan yang tidak memuaskan oleh sebuah rumah sakit mentereng di Jakarta), dan hilangnya aktivis kemanusiaan. Belum lagi keamanan di negeri ini, susah dicari!

Bagaimana denga tokoh agama, sebagian di antara mereka,
saya tak percaya. Karena lupa dengan umatnya.
Bagaimana dengan Guru, sebagian di antara mereka, saya juga tidak percaya.
Pendidikan melahirkan generasi layaknya burung, bingung kembali ke kandangnya.
Bagaimana para politikus, sebagian di antara mereka, saya tak menaruh harap lagi.
Hobinya jual beli kepentingan.
Apalagi sebenatar lagi akan pesta PiIkada serentak di tahun 2015
Uuuuuh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar