BUDAYA GLOBAL yang semakin merajai pola konsumtif kini telah merambah seantero dunia. Bahkan Indonesia juga tidak ketinggalan dalam masalah global konsumtif ini. Yogyakarta adalah salah satu kota yang tak luput dari pola-pola budaya global konsumtif, seperti fast food, laundry, kendaraan bermotor, nongkrong di cafee-cafee telah mengubah wajah Yogakarta semakin gemerlapan. Padahal kota Yogyakarta memiliki trandmark sebagai kota budaya, kota pariwisata, kota pendidikan dan kota gudeg, serta beberapa cap/label dari banyak prestasi yang telah di raih oleh kota Yogyakarta. Namun, apakah kota Yogyakarta masih seperti yang dulu???
Pemenuhan konsumrif yang diwujudkan dalam cinta kasih terhadap nilai-nilai material menjadikan salah satu nilai glonal saat ini. Nilai konsumtif bukanlah nilai tunggal. Demokratisasi, femenisme, atau humanisme pun, merupakan nilai-nilai global. Namun karena di topang oleh ketamakan dua nak kesayangan kapitalis saat ini, yaitu para birokrat dan pengusaha membuat nilai konsumstif tumbuh dengan pesatnya.
Fenomena ini sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Pengutamaan nilai konsumsi materi mengancam nilai yang lebih utama, seperti humansme dan spiritualisme. Karena nilai global menjadi tolok ukur globalisasi, maka ketika salah satu nilai absen, cap ketertinggalan akan melekat pada suatu wilayah. Demikian pula dengan simbol-simbl kedigdayaan konsumsi materi, martabat pejabat turut dipertaruhkan.
Mungkin inilah yang terjadi di Yogyakarta. Budaya konsumtif global yang pada hari-hari lalu absen dari ranah Yogya telah menimbulkan ketidak-percayaan diri para birojrat dan pengusaha. Maka tidaklah mengheran jikakini mereka memupuk budaya ini lewat kebijakan yang memihak budaya konsumtif. Budaya ini kian menohok kesadaran masyarakat dan menguji tingkat kepercayaan diri para birokrat Yogyakarta. Karena perkembangan budaya konsumtif tidak lepas dari peran pemerintah. Keraguan akan alibi pemberdayaan, peningkatan kesejahteraan, serta pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat muncul ketika bentuk yang dikembangkan pemerintah berbeda dengan pakem trade mark yang dimiliki Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya.
Akankah pola pembangunan fisik, seperti pembangunagn Mal, Perhotelan, pelebaran jalan, dan pembangunan kampus yang meniru-niru kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, juga mengikuti kegagalan serta kesemrawutan yang dihadapi kota tersebut? Jelas bahwa modernisasi fisik yang sukses telah dipertontonkan oleh kota-kota metropolis di Indonesia. Namun, kegagalan fisik yang modern ini hampir bisa dipastikan selalu berhadapan dengan kesenjangan sosial dan diskriminasi. Siapa yang bisa menjamin bahwa keberadaan Mal dan Hotel yang mewah tidak akan menjadi perekat bagi pengunjung dan bagi pedagang kaki lima, untuk kemudian menghadirkan pengemis, preman, pencopet, dan teman-temannya.
Globalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap masyarakat. Globalisasi juga membawa dampak yang anti rakyat bagi Yogyakarta. Karena Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dan identik dengan kota budaya, pariwisata dan pendidikan. Hal ini telah dikenal oleh domestik dan manca negara. Bahkan pihak pemerintah pusat pun memberikan embel-embel daerah Istimewa bagi Yogyakarta. karena beragam trade yang ada. Namun, apakah image kota Yogyakarta masih akan bertahan seiring dengan pesatnya globalisasi? Sampai hari ini pun banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah tidak berpihak pada rakyat dan malahan membuat image Yogyakarta semakin luntur.***(BK)
Beef Steak Ketela

Tidak ada komentar:
Posting Komentar