Yogyakarta sudah lama menjadi kota yang toleran. Ia sudah menjadi
rumah bagi jutaan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sejak pasca
kemerdekaan. Akan tetapi, fakta ini membutuhkan penguatan dan menemukan
momentumnya pada tahun 2012 dengan deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance
di Monumen Serangan Umum 11 Maret di Jalan Malioboro. Deklarasi ini bukan tanpa
maksud. Ia bertujuan untuk meneguhkan kembali Yogyakarta yang sudah menjadi
rumah bersama bagi orang-orang beragam agama, etnis, ras, budaya, dan juga
sosial status. Berbagai bentuk kekerasan atas kelompok lain yang terjadi di
Yogyakarta harus segera dihentikan dengan keistimewaan Yogyakarta.
Deklarasi Yogyakarta the City of Tolerance sudah berumur 4 tahun.
Bagaimana kondisi keberagamaan agamanya? Laporan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta diatas
sudah memberi penilaian bahwa kondisinya tidak membaik, namun malah memburuk.
Kita boleh setuju ataupun tidak atas kesimpulan diatas, akan tetapi fakta
menyebutkan bahwa terjadi kekerasan disana dan melibatkan kelompok agama.
Persoalan bahwa ia bisa kita labeli dengan kekerasan atas nama agama atau tidak
adalah persoalan lain.
Di
Yogyakarta sendiri mulai bermunculan seperti pemaksaan pemakaian jilbab untuk
perempuan dan pembubaran berbagai diskusi padahal Yogyakarta dikenal sebagai
Zero Intolerance yang menyediakan ruang-ruang public bebas untuk berkumpul dan
berdiskusi. Secara
nasional dampak kekerasan seperti domino. SP sendiri sekarang menjadi pelopor
untuk mendorong isu keberagaman dengan membuat laporan pelanggaran HAM dan
intoleransi. Perempuan dianggap tidak banyak menjadi korban secara fisik
padahal perempuan rentan menjadi korban dari kekerasan berlapis, kata Donna Swita dari divisi Kedaulatan Perempuan Atas Seksualitas, SP Nasional yang memberi gambaran masalah Perempuan dan Toleransi dalam dialog Publik yang diadakan Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta, Jumat/3/2017, di hotel Ruba Graha Yogyakarta.
Pembicara akan memaparkan situasi terakhir dari masing-masing
agama. Mulai dari agama Hindu, ibu Ni Luh Kasani dari Wanita Darma Indonesia.
Kedua ibu Yudith Liem, pernah aktif di UKDW dan anggota SP di Makassar, Jakarta
dan Yogyakarta juga coordinator local Pemuda Kristen Yogyakarta. Berikutnya Gus
Irwan Marjuki, yang familiar dalam gerakan massa, pengasuh pondok pesantren di
Melangi, penulis buku tentang Islam secara Toleran. Selanjutnya bapak Agung
Supriyono, berkantor di Kepatihan sebagai Kesbangpol. Ada Ki Wahono dari UST.*** (Bonnie)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar